Jumat, 28 Mei 2010

RIP, Cemong

Hari ini, gue ga bisa banyak komentar. Gue, occasionally, bermuka dua. Di titik2 terendah di hidup gue, nah, saat itulah muka gue jadi dua. Selama masih ada mata yang terbuka di sekitar gue, gue bakal terlihat at least seperti drew barrymore, muka gue yang biasa, kalo ga kayak joker. Cuma sepasang mata yang pernah ngeliat gue bener2 dalam bentuk tidak karuan, basah air mata dan terisak2 nyaris seperti asma: mata kucing gue, Cemong.

Cemong, sepertinya memang dikirim untuk nemenin gue disaat-saat terberat di hidup gue. Okay, kalimat barusan emang gue contek dari teenlit.

Well, mungkin Tuhan bakal ngasih gue hidup yang lebih ringan- or He thinks i am now has been able to stand up only on my own feet on every moment in life, i am now stronger, as He took my only tool to face hard times today..

Thanks for giving me Cemong, dearest God..may all his virtue gets back to him...

below are some pictures of Cemong, those which would remind me how much a finest friendship worth..

Rabu, 26 Mei 2010

Alam Bawah Sadar

well, seems like I'm having a pra-test-writing-desired syndrome. Entah kenapa, setiap mau ada daily test gue hampir selalu nulis. yeah, these fingers always have something to say before a great war. Mungkin, alam bawah sadar gue mempersiapkan kemungkinan gue bakal mati kehabisan keringet pas ulangan -mempersiapkan kata2 terakhir dan last impression sebelum gue mati di medan perang lobus frontalis (FYI, buat para prajurit perang senasib yang akan melawan sistem koordinasi, lobus frontalis adalah pusat kecerdasan, daya ingat dan kesadaran).

umm, ngomongin alam bawah sadar, gue jadi inget kalo gue baru saja mendiscovered kehebatan alam bawah sadar. Gue itu, manusia paling pelor -nempel molor. gue bisa tidur dimana aja, kapan aja, bermodalkan senderan gue bisa lari ke dunia sinetron Indonesia - atau nama umumnya, alam mimpi. syarat gue cuma satu; jangan biarkan seekor nyamuk pun menelan even sebiji sel darah gue. Sabtu kemaren, gue ikutan kemping bareng temen2 Palang Merah. Gue baru selesai praktek Tugas Akhir pelajaran kesenian - tugas praktek kolaborasi seni yang sangat-sangat lintah, menyerap setiap tenaga sampe gue tinggal setengah idup. Mungkin gue bakal cerita tentang TA ini, tapi later deh. i need to understand my body's regulation, soon after this post. Kalo lo mau baca sedikit bahasan tentang tugas ini, lo bisa baca salah satu postingan blog temen gue, klik aja disini. Mengingat gue dateng kemping dengan keadaan setengah idup, i break my own rules about sleeping. gue kedinginan, ga bawa jaket, ga bawa kaus kaki, ga bawa autan dan gue tetep tidur. dengan sangat pulas. terbangun seperti tidur memakai pampers dry comfort : bahagia, sehat dan ceria.

tiba2, gue merinding. deket kaki gue ada jejak darah. okay, gue mikir logis. palingan ini nyamuk.

lalu gue mikir lebih logis lagi: dimana mayat nyamuknya?

masih selonjoran, gue menciptakan dugaan dugaan yang semakin lama semakin tidak terduga.

kalo tadi gue mikir itu jejak darah nyamuk, tiba2 gue mikir kalo di langit2 ruangan tidur gue ada mayat sisa dari Drag Me to Hell, sampe akhirnya temen gue bangun dan memperhatikan telapak kaki gue dengan seksama.

kembali muncul dugaan yang lebih tidak terduga,jangan2 di kaki gue tumbuh jamur berbentuk Patrick Starfish.

tiba2, temen gue ngomong:
"De, habis nginjek apaan?"
"Err, ga tau."
"coba liat deh."

diiringi irama detak jantung yang tidak abnormal, gue memperhatikan telapak kaki gue, gue histeris.
Bahkan dalam keadaan sadar, kemungkinan gue berhasil nepok nyamuk sampe mati adalah 74564234:1. Tapi, dalam keadaan dikuasai oleh alam bawah sadar, malam itu kaki gue berhasil membunuh nyamuk sampe mayatnya nemplok gepeng di telapak kaki gue, tanpa melihat. dengan telapak kaki pula.

Gue jadi percaya, bahwa sesungguhnya gue punya alam bawah sadar dengan kemampuan yang luar biasa.

Ntar gue mau tidur, tanpa membaca buku, dan kalo gue bener2 punya alam bawah sadar yang demikian kuatnya, gue akan kebangun dengan kaki di atas buku dan otak penuh memori tentang kinerja hormon manusia.

Kalo ngga?

well, goodbye world, wish me luck for everything i'll face.

Rabu, 12 Mei 2010

The Power of Laughter

Sore ini, angin gue rada ga enak. It was a west monsoon, bringing the rain to Indonesia. Wait, ini bukan geografi. Gue bahkan ga ngerti geografi.

Well, gue tipe orang yang kurang konsisten mengekspresikan kemarahan. Ya kayak tadi sore aja deh.

Dikarenakan suatu perkara yang gue ga bisa sebut disini (mengingat pepatah lama "you'll never know what's gonna happen", dalam hal ini  "what's gonna happen" diartikan secara sepihak dan sesuka hati oleh gue sebagai "siapa-yang-bakal-baca-tulisan-lo-di-dunia-maya"), gue ngerasa harus marah.

Jadilah, gue pasang muka sinis, suara ketus, menggunakan semua warisan kejudesan dari para leluhur untuk menemukan kata-kata paling pedas dan menyindir dengan sangat menyakitkan. Trus gue nunggu suasana cukup senyap, lalu berencana mengubah kesenyapan itu menjadi keheningan yang sangat tegang, dengan mengucapkan kata-kata pedas yang sudah dipikirkan masak-masak-hingga-bantet tadi dalam volume yang cukup keras untuk menjangkau seluruh sasaran.

Eh, gue lupa bilang kalo sasaran kemarahan gue tadi lumayan banyak, gede2 pula. makanya dengan sangat disengajain banget gue nyeletuknya tiga perempat teriak. Oke, gue ngaku deh. 7/8 teriak, sebenarnya. Soalnya suara gue kaya tikus kecepret banget tadi.

Respons yang diharapkan adalah para sasaran kemarahan ini menyadari kekhilafan mereka dan kembali ke jalan yang lurus, berhenti melakukan kekhilafan itu.

Okay, suasana jadi hening. Rasanya gue udah berhasil

Tapi tiba2, salah satu temen gue malah nyeletuk,
"Hah? apa sih? ngga ngerti?"
Lalu semua orang menertawakan kebodohannya. Gue pun kebawa suasana. Dan ikutan ketawa. See? Dengan mudahnya gue tergoda buat ketawa ditengah2 usaha mengekspresikan kemarahan.

Merasa gagal mengekspresikan  emosi di dunia nyata, gue pun lari ke twitter.

Gue post dua tweet berturut2 dengan pola kalimat yang sama.

"Ketawa bukan berarti ga marah"
"Ketawa bukan berarti ga kesel"

tiba, ada respons dari usernya- kak Olivia Ruben , kakak dari temen gue yang pernah gue ceritain di salah satu post gue yang judulnya Sempit

"@dedemboo ketawa bukan berati senang"

jadilah, kita saling me-reply tweet, menghasilkan percakapan seperti yang sudah dirangkum oleh calon arsitek diatas didalam salah satu post-tumblrnya, The Power of Laughter (oke, gue ngaku. gue ga punya ide lain, jadi gue colong judul postnya kak olivia, haha) :


so this list began, when she tweeted a few things in the same theme continuously, i replied, she replied, until i tweeted this:


me: ketawa bukan berati tulus. thus we have, the power of laughter #1 conceal emotion

her: #2 a medium for any kind of emotion

me: ni lama2 bikin buku #3 distracting people

her: hahaha. okey, #4 confusing people

me: #5 ice breaking, in an awkward situation

her: *habis ide

me: #6 to get along with the conversation, padahal ga ngerti :P

her: stuju2. #7 mengalihkan topik pembicaraan

me: #8 menarik perhatian ….. sebagai bahan tertawaan

her: #9 insulting someone..in a fun way

me: haha true, sarcasm is it? #10 being polite *kehabisan ide

her: iyaap. *sama, makanya mikirnya lama. mungkin, #11 menyembunyikan bebunyian yang tidak enak didengar

me: like, saaaay, ‘preeeeet’ ? :)) #12 hmmm… menguatkan joke yang -harusnya- lucu? *serius ini mulai ngaco

her: hahahaha. sepertinya akan semakin ngaco. #13 menghargai joke garing yang dikeluarkan orang yang (seharusnya) dihormati

me: sure, liat ini sampe berapa bisanya #14 biar -keliatan- pinter

her: hahahaha. okeey. cari volunteer buat nambahin? #15 menutupi kebohongan2 yang tidak saling sinkron?


me: iya tampaknya harus begitu #16 menambah bumbu dalam percakapan *kenapa gitu yaa harus bumbu? :-/*


her: habis ide. mencari volunteer untuk menambah list power of laughing seperti ini. anyone care to add more: :D


me, itu kak olivia. dan her (sekaligus she), dengan cocok sekali adalah gue (mengingat her, juga berarti remedial, atau lebih terkenal diantara gue dan temen2 SMA gue sebagai , ujian-ulang-ato-tugas-tambahan-akibat-ga-lulus-ulangan-harian)

jadi, gimana? ada yang mau menambah panjang (atau menambah ngaco list yang memang sudah ngaco ini) daftar ini?

Minggu, 09 Mei 2010

MaC Talk with Birong

MaC Talk stands for Me and Cat's talk. Secara gue sekarang satu2nya anak berwujud manusia dirumah, kakak gue lagi di luar kota nyari kuliah, I'll have a lot of conversation with my cats.

As it goes today. Ini obrolan antara gue, dan salah satu kucing gue.
Nama            : Birong
Arti Nama    : Hitam (dalam bahasa batak, birong = item)
Umur            : Sekitar 1 tahun
Jenis            : Persia
Status         : Ibu beranak 1 tanpa suami
Pekerjaan : Makan, Tidur, Menyusui, Berantakin Rumah, Ngomel2 Minta Makan



Tumben2nya, pagi2 ga ada kucing yang bangunin gue. Jadi gue keluar kamar, takut ada yang malingin mereka. Kalo mereka dimalingin, gue kasian sama malingnya. Kucing2 gue pada rakus, bisa2 uang tebusan yang gue kasih kepake buat bayar utang beli makanan mereka doang.

Gue buka pintu, gue liat Birong lagi tidur telentang ga berdosa diatas sofa ruang tengah. Di atas tumpukan baju gue yang baru disterika. Dimana baju teratas dari tumpukan baju itu adalah kemeja gue warna item dari beludru. FYI, beludru itu ibarat magnet bulu kucing. Sekali aja ada kucing yang nempel di kain beludru, biar kucingnya udah pergi bulu2nya pasti tetep nempel.

Gue geremlah.

Gue samperin, gue toel2. Ga bergeming, ngedengkur kenceng.

Gue duduk di lantai, gue ngomong di kupingnya.

Gue : Bangun oi. Bangun, udah pagi. (gue gaplak mukanya)
Birong : (bales nendang)
Gue : Okay, hari ini ga ada jatah tuna kalengan (jalan ke kulkas, ngetok2 kaleng makanan kucing pake sendok)
Birong : (mendadak udah nyampe di depan kulkas, gelendotan di kaki gue)

tiba-tiba mama keluar kamar.
Mama : Aduh kasian anak mama (heboh)
gue kira mama ngomong ama gue, kasian karna di umur yang belum ganjil 17, gue terpaksa jadi suster kucing. ternyata..
Mama : sini birong sama mama, dede ga mau kasih makan yaa?
Gue : (bengong)
Mama : (ngambil kaleng makanan kucing dari gue, ngasih birong makan, masuk kamar, tutup pintu)
Gue : subhanallah...

Selasa, 04 Mei 2010

Mayoritas

Hell yeah, History test was canceled. Jadi, si Ibu gurunya ngga bawa soal ujian gara2 ngira kalo hari itu ga akan belajar efektif.. Secara minggunya kan Hardiknas, dikiranya bakal ada acara di sekolahan. Quite strange, baru ini guru ngarep ga belajar. Biasanya murid2nya yang doa berjamaah biar ga belajar, ini malah guru yang siap-siap buat ngga belajar. Sebenernya tinggal bikin soal lagi aja kan? Tapi kelas gue kan isinya anak2 baik semua, kita ngga mau bikin repot guru. Biar Ibu guru ga usah repot2 bikin ulang soal, kita terima aja kalo ulangan batal. Dengan besar hati. Lebih tepatnya, dengan senang hati. Lebih bener lagi, dengan amat senang sekali.

As i've planned before, i'll write about a friend of mine. nih orangnya



Namanya Sonia. Lo bisa add Sonia Priyanka ini di FB. Masalah di approve ato di reject, bukan urusan gue ya, hehe. Palingan di approve lah, dia orangnya friendly banget kok. Gue udah kerja bareng dia di OSIS dari SMP sampe sekarang. Nah cerita gue ini ada hubungannya juga sih sama Hardiknas kemaren. Jadi sekolah gue diundang seminar gitu, judulnya sih tentang pendidikan. Jadi kita kirim 10 orang, asal milih aja. Kebetulan yang kepilih muslim semua, kecuali ya Sonia ini. Seminarnya jam 8. Gue telat sih datengnya, soalnya mama gue belanja ke pasar lupa bawa gue tapi inget bawa kunci. Bahasa halusnya: gue ga sengaja dikunciin.

Jam 8an mama nyampe rumah, gue sama kucing2 udah di depan pintu aja. Kita udah pada laper. Dan gue juga udah ditungguin di tempat seminar. Begitu pintu dibuka, gue langsung ngacir ke teras. Make sepatu, dibuka lagi trus balik lagi ke dalem nyari mama.
Gue lupa minta ongkos.
Abis perongkosan kelar,  berangkatlah gue ke TKP. Pas nyampe gue liat kiri kanan, nyari spanduk acara seminarnya. Trus setelah ketemu, gue langsung datengin ruangannya. PD aja gue masuk ga pake nanya2 dulu. Muka disetel songong, biar keliatan agak pinter.

Begitu masuk, gue diem dulu. Gue make jins panjang, polo shirt dan jaket khusus anggota OSIS sekolah gue. Semua utusan sekolah emang diseragamain pake kostum begitu. Di meja pendaftaran, resepsionis2nya make jilbab gede panjang sampe ke pinggang, trus pake gamis. Di atas meja ada tulisan 'akhwat', di ujung lain ruangan ada meja pendaftaran yang ada tulisan 'ikhwan'. Kiri kanan gue pada pake baju muslim semua.

Ini gue yang salah ruangan ato spanduknya yang salah tempel? Gue telponlah si Sonia ini. Ga lama kemudian, dari dalem ruangan yang penuh laki2 berpeci dan perempuan berhijab keluarlah pemadangan kontras: sesosok cewe yang kostumnya sama kaya gue. Mukanya oriental, agak kebatak2an. Wajah yang sangat familiar. Sonia.

Ternyata gue ga salah ruangan. Spanduknya juga ga salah tempel. Sekolah gue yang salah info. Dikiranya ini acara umum, ternyata pembicaranya ustad. Acaranya juga hasil koalisi himpunan mahasiswa islam sama salah satu ormas islam. Kita tetep masuk, daripada sekolahan ga ada utusan.

Baru masuk kita udah disalamin sama panitia yang cewe2. Dari sekian banyak yang masuk ruangan, kita doang yang disalamin gitu. Mungkin karna mencolok banget ya, kesannya kayak rombongan kafir pengen tobat gitu. Masuk ke dalem lagi, ternyata ga cuma kita doang yang saltum. Ada juga sekolahan swasta saltum make seragam sekolahan. Parahnya, yang cewe2 seragamnya rok pendek. Dan ketat. Dan berdandan. Dan bawa2 pena bulu2. Di atas langit selalu ada langit, di atas ngawur selalu ada yang lebih ngawur.

Balik lagi ke Sonia. Kebayang ga lo jadi Sonia gimana? lo kejebak di seminar muslim, padahal lo kristen tulen. Tapi yang namanya Indonesia, apalagi di daerah gue, Islam itu mayoritas banget. Orang2 non muslim udah kebiasa liat kebiasan2 orang muslim, kaya ngucapin assalamualikum, solat, mulai acara pake al-fatihah, etc. Malah ada yang fasih ngikutin. Ya kaya si Sonia inilah.

Gue udah kuatir aja Sonia bakal ngedumel bete sepanjang acara. Nyatanya, dia malah semangat banget. Disalamin assalamualaikum ngejawab. Pas ada yang mau sari tilawah qur'an, dia yang duluan ngartiin auzubillahiminasyaitonirozim. Lengkap : Aku berlindung kepada Allah dari godaan syeitan yang terkutuk. Pas ditanya apa kabar, ngejawab : Alhamdulillah, Luar biasa. Jangan2 kalo disana dikasih jilbab juga dia pake kali ya.

Cuma yang dia lupa, kalo cewe sama cowo dipisah, Ikhwan sama Akhwat ga boleh terlalu deket. Lah, Sonia mah orangnya amat sangat friendly. Kayaknya buat dia manusia itu cuma dua jenis: temen sama bukan temen. Laki perempuan mah dia ga peduli. Selesai acara, dia langsung nyamperin temen sekolah gue yang cowo, tojos2an, jalan bareng ke pintu. Gue keikutan lah. Pas nyampe deket pintu, kita langsung ditegorlah. Yang cewe disuruh pindah, gabung ke pintu keluar cewe. Sonia mah gerah banget sama pemisahan kaya gini. Begitu keluar ruangan, dia ngomong dengan suara bataknya yang lantang : "Udah diluar kan? udah bisa gabung dong."

Temen2 sekolahan gue udah turun lewat tangga di dalem ruangan, trus gue sama Sonia mau nyusul. Tiba2, entah darimana datangnya ada mbak2 rentangin tangan sambil teriak heboh,
"Eh eh mau kemana?"
Si mbak2nya badannya kecil. bulet. Gue jadi ngeliatnya seolah2 si mbak2 itu anak kecil lagi main buaya2an trus ngehadang kita buat naik ke kapal.
Gue kebetulan megang sampah. Dan deket tangga itu ada tong sampah. Jadi gue polos aja ngeles "Mau buang sampah."
Gue dikasih lewat. Sonia balik kanan. Diarahin lewat tangga lain.

Trus gue inget, kali ini acara ada sertifikatnya. Gue kebayang, sertifikatnya sonia bakalan begini:
Alhamdulillah, Sonia Priyanka Ginting telah mengikuti Seminar Bla3 yang diadakan oleh Ormas Islam X
trus ada cap huruf2 arabnya
Sampe disitu, ga bahaya.

trus sertifikatnya dipake buat ngelamar jadi biarawati.

Gue ga kebayang deh, hahaha.

Anyway, satu hal yang gue respect banget dari Sonia dan temen2 non muslim gue yang lain, mereka ga pernah permasalahin dominasi agama gue di kehidupan mereka. Mereka ngehargain kepercayaan gue banget. Kalo misalnya lagi bikin acara, mereka ngasih waktu luang buat solat. Trus bulan puasa, mereka hormatin ibadah gue dengan ga makan ato ngomongin makanan sembarangan.

Tapi gue? gue kadang tetep aja suka bete kalo tetangga gue bikin acara agama rame2, nyanyi2 sampe malem. Padahal cuma berapa kali setaun. Lah mereka tiap hari denger azan, biasa aja.
Mungkin gue terlalu nikmatin posisi agama gue sebagai mayoritas, gue perlu belajar cara para minoritas menerima perbedaan. Cara mereka melihat perbedaan, and deal with it.

Well,
Mayoritas bisa menguasai semuanya, tapi jarang yang menguasai bagaimana menerima kemayoritasan kaum lain, seperti apa yang dilakukan para minoritas hampir di setiap hari dalam hidupnya.
Blogged with the Flock Browser

Minggu, 02 Mei 2010

The week of test

wow, i am surprised. a group friends start blogging, all-classmates. read these raditya dika-inspired (just like me) writers : Oktaviani Azwinda, Cindy Capriyanti and Amanda Diani. See? ternyata bukan gue sendiri yang hidupnya (menyedihkan) begini. I'm no longer fooling around alone, hehe.

grrh,thanks to them, i can't refuse to write at the moment. Well, i supposed to be reading pages of history or dealing with buffers & hidrolisis. Iye, besok ulangan dobel. Sejarah dan Kimia. There's quite a story of these tests.

Jadi gini, seharusnya minggu ini jadi minggu ujian buat kelas gue.
Jadwalnya :
Senin : Sejarah (3 Subab= hafalan & 20 halaman dengan struktur 0,8% gambar dan 99,2% huruf2 font 12 line spacing 0) + Kimia(2 Bab)
Rabu : Biologi (setelah SATU kali pertemuan. dan gue ga masuk) dan tugas Dakwah
Kamis : Matematika (2 Bab)

Inget post gue yang kemaren, yang gue ga sekolah? sebenernya itu tumben2an gue ga masuk sekolah gara2 sakit. biasanya gue sesakit apa juga tetep berangkat sekolah. somehow sekolah, buat gue punya healing power tersendiri. this sounds so nerd, but it actually does. Gue pernah berangkat ke sekolah muntah2, nyampe di sekolah makan baso langsung bisa loncat2. Nyampe rumah muntah lagi. Gue curiga sekolahan pasang tolak bala penyakit, biar ga ada siswa yang ijin ga belajar gara2 sakit.

Sebenernya kalo sakit juga ga bisa ngapa2in. UKS sekolahan, patheticly adalah ruangan berkasur dua semi kantor pribadi guru olahraga gue. Mau liat UKS ada casan BBnya? ada, di sekolahan gue. Mau liat UKS ada bola volinya? ada, di sekolahan gue. Mau liat UKS yang obat2annya lengkap? ada, tapi yang jelas bukan di sekolahan gue.

Biar UKS sekolahan full AC, yang mau istirahat sakit disana mikir dua kali deh. Minimal dua kali. Mau lo sakit2 tiduran di AC 16 derajat tanpa selimut? Apalagi yang cewe. Mau lo seruangan berdua doang sama guru penjaskes gue? We're talking about the man that teaches us PE by forcing us making a 100-pages paper about basketball. The man who give us end-term test and let us passed it if only we buy 4 brand-new basketballs. Kalo gue, mikir gue mikir minimal lima kali deh. Pertama, guemikir gue ga mau tidur diliatin orang. Kedua, gue lebih ga mau lagi tidur diliatin guru. Ketiga, gue lebih ga mau lagi lagi tidur diliatin orang yang sukses bikin gue nyumpah2 tiap seminggu sekali selama dua tahun terakhir. Ketiga, gue ga mau seruangan berdua doang sama orang yang pernah bikin sekelas gue latian fisik ujan2an. Keempat, gue akan bisa istirahat deket2 orang yang bikin sobat gue pingsan gara2 tugas aerobikan. Kelima, gue bakal tambah sakit kalo denger becandaan garing lelaki paruh baya yang ga lucu sama sekali. See? His attendace is a BIG reason to not being in the School Health Unit. You don't even need more, even they're available.

Okay, stop those objurgation. Let's go back telling the week of test story. Iye, harusnya weekend ini I suffer a pasca-excessive-test syndrome : lingkaran mata iteman, mual liat buku, deg2an nunggu nilai yang ternyata ga seberapa. Apalagi ulangan sejarah barengan sama kimia. Gue ga punya sejarah nilai sejarah bagus, mengingat Kimia sering ga sejalan sama pikiran gue, kayaknya ga bakal ada sejarahnya nilai sejarah gue bagus.
Sabtunya dateng kabar kalo ulangan MTK ditunda ke minggu depan, dan ulangan Kimia pindah ke hari kamis. Gue narik nafas, tapi ngeluarinnya belom lega. I still have History waiting on Monday. Gue persiapannya masih zero, fisik masih separo2, kalo dipaksa nelen hafalan sejarah bisa mati bego.

Tapi, minggu malem gue dikabarin kalo ternyata ga jadi ulangan sejarah. Katanya temen gue nelpon gurunya langsung. Gurunya juga ga mood mau ulangan, baru pulang travel darimana gitu. Gue lupa lah. It was like a christmas in July. Gue surprise banget doa gue makbul. Dan lebih surprise lagi waktu denger temen sekelas gue beneran nelpon guru gue. Terharu, gue baru tau gue punya temen yang PDKTin guru sejarah gue, betapa suci bersih hatinya. It turns out ternyata temen gue ga holy2 amet. Ternyata yang nelpon tuh temen gue dari kelas lain, yang emang sangat sangat sangat friendly even to the unfriendly teachers. Dia ikutan rame2an nelponnya aja, mastiin kalo yang kelas gue ikutan batal ulangan. Besoknya dengan tanpa dosa gue ngakakin  temen gue yang ga tau kalo batal ulangan sampe2 rok sekolahnya ga kering (relasinya rok basah sama ulangan gue ga ngerti deh sampe sekarang, yang jelas  temen gue apes, kudu gue ketawain).

Well, mengingat kenyataan bahwa otak gue sama Kimia sering tawuran, mulailah gue nyicil belajar kimia. Selasa siangnya gue nyicil ngonsepin teks dakwah, biar malemnya tinggal ngafal.Ternyata gue malah ketiduran dari sore. So lucky, ternyata kelas gue disuruh nyusun yel2 buat ditampilin hari kamisnya, ngedukung perwakilan sekolah yang ikutan cerdas cermat. Hal peryel2an ini jadi sangat sangat bermakna. Pertama, ga jadi dakwah dan notabene pada belom siap. Kedua, ulangan biologi ditunda jadi jumat. Ketiga, ga jadi ulangan Kimia. Keempat, karna cerdas cermatnya menang, ulangan biologi hari jumat ditunda lagi jadi rabu depannya. Kelima, artinya itu ulangan2 cuma pindah jadwal doang ke minggu depan. Ulangan kimia tetep barengan sama ulangan sejarah, tetep susul2an sama ulangan biologi dan dikejar sama ulangan matematika. Plus deretan deadline tugas2. Keenam, gue tadinya mau ceritain temen kristen gue yang kejebak di seminar pemuda islam hari ini, malah cerita tentang balapan ulangan ini. Ketujuh, gue mesti berhenti berkhalawat sama laptop, mengingat hari senin beserta kroco2 ulangannya bakal mendarat dalam kurun waktu kurang lebih dari 6 jam lagi.


see you soon guys
Blogged with the Flock Browser

Kamis, 22 April 2010

Rejeki Lumayan and Annoying or Helpful?

well hello world. it's me again.
Flu gue kemaren, entah kenapa berujung jadi mual-mual. Kayaknya gue korban mutasi virus deh (yeah, otak gue membeku dan imajinasi gue meliar gara2 ga sekolah, hasilnya ya hipotesis2 ngaco semacem ini). Harusnya sih gue ke dokter, cuma kebetulan bu dokternya lagi rapat. Kebetulan beliau kepala puskesmas. Beliau juga ibu dua anak dan anggota komite sekolah. Eksis banget yak.

Baru2 ini, gue dapet rejeki yang lumayan. Biasanya gue perlu setahun buat ngumpulin duit segitu, makanya begitu itu duit di tangan, gue terharu banget. Gue angkat itu duit tinggi2, dan setiap lembarnya berkilauan minta dibelanjain. Kata2 sale,diskon dan cuci gudang mendadak muter2 di kepala gue, minta disamperin. Semua barang yang gue pegang keliatan tua dan kumel, seolah-olah mau maksa gue buat beli yang baru. Gue keinget pas lebaran gue pernah ngumpulin sangu. Sangu itu duit ampau, istilah dari nyokap gue. kayaknya sih bahasa sunda, tapi gue ga yakin2 amet. Gue ga mau cari berantem sama orang2 sunda. Bokap gue suka sakit kepala kalo nyokap gue udah ngomel2. Nyokap gue kan baru seorang, kalo banyak orang? bisa2 otak gue kena radiasi. Walah, kok malah tambah nyolot omongan gue, bisa perang beneran nih. Ga lah, orang sunda mah cantik, baik, ramah tamah, gue kan turunan sunda juga (*nyari aman).

Balik lagi ke sangu lebaran-jaman-kapan itu. Sangu yang gue pegang sekitar 1jutaan, trus gue bawa jalan2 ke mall. Dalam hitungan jam, 10 lembar duit seratusan ribu berubah jadi 5 lembar seribuan dan beberapa koin recehan. Gue pulang cuma bawa berapa biji komik sama perkakas2 nulis yang ujung2nya bakal ilang juga kalo gue bawa ke sekolah. Gue yang paginya ngetawain kakak gue yang ngurung diri di rumah, pulang2 miris liat kakak gue yang masih ngitung lembaran2 duit merahnya. Yah, gue emang bukan calon pebisnis yang baik. Gue mah segala duit disimpen di kantong. Ga akan gue itung2 berapa yang keluar dan berapa yang masuk. Tiba2 abis aja. Makanya, tiap gue dapet rejeki gede dikit gue oper ke nyokap, setelah gue potong beberapa persen buat hura2 (alesan gue ngambil duit sendiri : i can't resist..i..need..to..shop..or..i..will..die...someday)

Nah, gue sih baru cerita2 doang sama nyokap soal rejeki yang lumayan tadi. Belom gue kasih, belom gue potong buat gue-nya soalnya. Besok paginya, gue kebetulan libur. Libur beneran, bukan terpaksa libur kayak hari ini. Sekitar jam 6an pagi, suara yang gue kenal dari lahir, nanya gue simpen duit dimana dan alam bawah sadar gue dengan bodohnya nyahut, "di laci ma, laci yang nomer dua dari atas." Sekitar jam 8an gue bangun, gue cek laci gue dan gue loncat balik ke kasur. Isi laci gue tinggal recehan sama tiga lembaran ijo. Merinding gue, masa sebanyak itu lembaran merah bisa ilang gitu aja. Gue masih belom ngeh kalo nyokap yang 'mengkonservasikan' duit gue sampe nyokap nelpon sekitar jam 12 siang.
Nyokap (N) : "De, jangan lupa makan siang."
Gue (G) : "Iya mah. Ma, duitku yang kemaren ilang. Gimana nih?" (Panik setengah idup)
N : (diem dulu) "Ngg...."(lama banget 'ngg-'nya)
"Oh, tadi mama ambil. Nih ada di dompet mama, masih sama amplop-amplopnya malah. Antisipasi, biar duitnya ga lari kemana-mana. Kalo mama biarin bisa-bisa besok tinggal amplopnya aja. Mana hari ini libur kan."
G : "....(ga bisa ngomong, telak banget nyokap ngomongnya)"
N : "Yaudah mama kerja lagi ya nak, jangan lupa kamu solat, makan siang sama ntar temen mama..." (gue ga dengerin lagi, logika gue belom balik. Bisa2nya duit ditilep nyokap sendiri. Ini nyokap gue lho, nyokap yang sering gue tilep duit kembalian titipan belanjaanya buat beli jajanan dan jarang banget sadar.)
 : "dadah..." (telepon putus)

Malemnya gue protes ke nyokap, kok Beliau ngambil duit gue ga pake ijin2 dulu. Dipikir-pikir, biarpun tujuannya baik, seharusnya kan nyokap bilang2 dulu gitu ke gue, basa-basi apa kek, biar gue ga sakit jantung juga kemalingan pagi2. Tiba2 nyokap malah ngajak jalan ke mall. Secara belom malem2 banget mah gue hayuk2 aja. Kalopun udah malem2 banget sebenernya tinggal nyogok gue pake jcool juga pasti gue manut.

Nyampe di mall, kita langsung ke lantai dasar, bagian elektronik (bukan bagian elektronik yang kulkas, rice cooker, etc, tapi laptop, hp, camera dan sejenisnya). Sejujurnya, ini bagian mall yang gue rada ga suka. Gue sih seneng barang2nya, seneng banget malah. Cuma malesnya, gue sering disangkain etnis Tionghoa sama pedangan2 Tionghoa. Sebenernya enak sih, nawar jadi agak kebantu. Tapi, secara bahasa mandarin gue cuma tau i er san si sama wo aini aja, yang ada gue malah sering dibikin sebel sama pedangang-pedangannya. Kalo sama bokap belanjanya sih ga papa. Bokap keliatan lebih Tionghoa dari gue, secara buyut gue Tionghoa asli. Dan bahasa mandarin bokap lebih canggih dari gue. Nah, mengingat muka nyokap gue sama sekali jauh dari tampang Tionghoa, ini nih yang bikin gue sering makan hati. Kenapa?

Well, baru masuk toko pertama, gue udah makan hati.

Pemilik tokonya itu temen baru nyokap gue, Ibu2 seumuran nyokap, rada berisi dan jelas sekali keliatan asalnya dari etnis Tionghoa. Nyokap gue sibuk ngobrol basa basi, biasalah kalo ibu2 ketemu kan obrolannya dua ribu-an topik, malah kadang lebih. Gue sih sibuk liat2 laptop yang ada disitu. Gue ketemu laptop merek HP, ram 4 gb. gue ngincer banget nih, langsung gue tanya aja harganya. katanya, sekitaran 6,9 gitu. Trus nyokap gue nawar, minta kurangan dikit harganya. Si Ibu pemilik kaget, " Lho, ibu mau beli ini juga? katanya nunggu anak ibu?". Nyokap gue langsung bilang, " Ce, yang tadi tanya harga itu anak saya"
"Hah? ini anak ibu yaa? saya sangka siapa, soalnya mukanya beda. Anak ibu sipit2 banget, putih, rambut lurus kaya chinese. tadinya kalo nanya pake bahasa inggris saya mau kasih harga pake sing dolar. Ibu kan kecil, putih tapi ga sipit, trus mukanya masih keliatan indo lah. anak kandung atau saudara bu?"
(nyokap ngakak), " iya ini anak saya, dia mirip bapaknya bu."
gue sih udah makan hati aja. dalem hati gue komentar, "Kalo mata gue sipit2 banget, mata Ibu opo toh bu?garis tipis2 banget?".
Well, ujung2nya kita ga jadi beli laptop itu, gara2 nyokap ditawarin liat Acer Ferarri di pameran yang ada di lantai atas.

Well, pas kita jalan ke tempat pameran, gue sempet misah dari nyokap dan mampir ke toko aksesoris hp, beli memori sama headset buat PDA gue.Gue ubah dikit logat ngomong gue jadi agak Tionghoa, dan voalla, gue dapet memory 2Gb sama headset stereo+bass cuma dengan selembar duit 100rb, hahaha. Balik2 nyokap gue geleng2 doang.

Ya, kadang2 emang beberapa hal bisa sangat annoying, tapi di lain waktu, it could be so helpful..
And in the end, rejeki gue yang lumayan itu cuma berkurang selembar buat beli si headset sama memory tadi, karna pamerannya rame banget dan gue sama nyokap males nerobos2 keramean kaya gitu.

Rabu, 21 April 2010

Kartini is not belong to only woman, but to all human

Hey, selamat hari kartini, wanita-wanita indonesia. Each of you are a kartini with a different fight, aren't ya?

Hari ini, salah satu kartini 'terperangkap' di dalem rumah. I supposed to be at the school, tapi badan lagi ngga dukung. Maaf ya Ibu Kartini, terimakasih atas perjuangannya atas hak wanita untuk bersekolah. Gue jadi agak ngerasa bersalah.

Gue ga bisa ngomong banyak tentang Kartini. Gue ga tau banyak soal beliau. Yang gue tau, beliau itu nelson mandela-nya perempuan Indonesia, iya ngga? Beliau-lah,yang mekarin istilah 'emansipasi wanita'. Mungkin kalau masa itu twitter udah ada dan beliau punya account twitter, her writing would always be a trending topic. Retweeted by woman all over the world.

Tadi gue baca cuplikan-cuplikan tulisan beliau di twitter yang di post oleh user ber-nickname gypsibelle and from far away inside my heart nodding each sentece she said..
nih beberapa cuplikannya
well, salah satu tweet yang paling ngena buat gue adalah
"@pandji Meruntuhkan sesuatu dpt dilakukan orang yg terbodoh, tetapi membangun? Surat Kartini 12121902"

why?
first, i love the date. 12-12. this is the silliest reason, hahaha.

second, i'm getting more serious. pertanyaan retoris diatas, buat gue lumayan 'dalem'. banyak orang yang ga tau susahnya membangun dan dengan gampangnya ngehancurin apa yang udah orang bangun. dengan susah payah. mirisnya lagi, para penghancur ini cenderung ngerasa dapet 'shortcut' to something, to get over people's hardwork. atau simpelnya : know how to cheat.

yeah, cheating yang jadi basic dari banyak banget ke-ngaco-an dimana-mana. banyak orang ketawa-ketiwi, they think they have succesfully cheat on something. they consider their victim as the fool. nyatanya, they are even fooler (is there a word 'fooler'? idk, hahah) kan?

well, i need a fact to explain those argument. an example.
gini deh. since i'm a student, gue mau ngasi contoh lewat pelajaran fisika. beberapa orang yang ngafal rumus cepet, ketawa ketiwi waktu temen yang lain ngerjain soal setahap demi setahap, sesuai konsep yang mereka pahamin. sementara ga nyampe 3 menit soal itu bisa diselesein lewat rumus cepet. keren sih, ngerjain soal fisika cepet. halal banget sebenernya make rumus cepet, asal lo ngerti itu datengnya darimana dan gimana ceritanya bisa sampe begitu. atau intinya : lo ngerti konsep. nah kalo lo cuma hapal rumus doang dan udah songong ketawain orang yang ngerti konsep? yah, lo ngga lebih dari cheaters. cheaters kurang ajar. Murid-murid abnormal, goal belajarnya ngaco. Kalo murid normal belajar buat ngerti konsep, mereka belajar buat ngerjain soal. sometime, pas soalnya dibelok2in dikit, nah mati lo cheaters. mati kutu. ga bisa apa2. See, ini ngedukung pendapat gue tentang cheaters, they consider their victim as the fool. nyatanya, they are even fooler.

Dari sini juga keliatan, bahwa hidup itu punya 'mekanisme pembalasan' tersendiri buat apapun yang udah kita lakuin. Kemalesan siswa yang ga mau belajar buat ngertiin suatu hal, ntar ngefeknya ke mereka sendiri kan? yah, beginian yang sering disebut orang karma. sayangnya karma suka rada telat.

third, this sentece shows how Kartini realized how hard her fight will be, and still, she had a big willing to do it. Then, she finish it.She won her fight. Walaupun beliau sadar apa yang dilakuinnya bisa banget mandek, she didin't care. She wasn't afraid of things that could been happened to her. Beliau yakin kalau beliau memperjuangkan sesuatu yang benar, walaupun kiri-kanan-depan-belakangnya bilang itu salah, walaupun selama hidupnya kenyataan mempersuasikan bahwa lemahnya wanita adalah hal yang sangat natural, sangat kodrati.

Penjabaran gue diatas kayaknya terlalu simpang siur kesana kemari ya, tapi kurang lebih begitulah gue ngartiin kalimat beliau tersebut. Buat gue, Kartini lebih dari sekedar ikon kemajuan bagi perempuan, tapi seorang inspirator buat siapa aja. Semua orang, laki-laki atau perempuan, bisa dan boleh belajar dari Beliau. Karena, seperti apa yang beliau katakan 
"Celaka apabila orang dapat berpikir tapi tidak boleh, dapat merasa, mampu dan mau tapi tidak boleh"
Surat Kartini 29-11-1901

Sabtu, 06 Maret 2010

Getting a lil bit serious: talking about art and its education

overall, ini cuma sekedar bahasan gue aja, ga ada maksud membela kepentingan siapa2, gue cuma nulis apa yang gue rasa doang. no offense for everyone, gue tau tulisan gue dibawah masih ngawur sana sini, sorry deh, hehe. gue minta maaf sebelumnya kalo ada yang merasa kesinggung sama tulisan gue ini, cuma ya itu tadi, gue disini ga ada maksud apa2 selain nulis what my heart told me.

Someway menurut gue, seni ga butuh titel. Malah bukan seni aja, segala sesuatu yang cenderung diukur dengan rasa, itu ga perlu dapet gelar ini itu buat jadi expert di bidang itu. Buat seni, personally di mata gue ga perlu jadi doktor seni buat jadi seniman jagoan. Gue bukannya anti fakultas seni, gue cuma mikir seni itu natural, ngalir sendiri. Oke, seni emang bisa dipelajarin, tapi bakat engga. Minat dan dedikasi juga penting, dan totalitas dan konsistensi berseni ini cuma bakal ada di orang2 yang emang udh gifted jiwa seninya. 

Argumen gue sih gini, lo liat aja sendiri musisi2 legendaris, sejenis Elvis Presley, ato di Indonesia Chrisye. Cari deh yg punya gelar PhD seni. Dapet? Jago deh lo kalo dapet, niat banget lo matahin argumen gue, hahaha. Gue sendiri punya temen yang sering menang best dummer kalo festival band, cuma begitu ulangan harian seni musik di sekolah jeblok. Ada juga yang asik banget kalo main gitar, giliran disuruh solmisasi pake gitar gurunya sampe ngamuk. Model begini jamak banget dimana2, iya ngga? Gue ngambil contoh musik soalnya gue ngerasa asumsi ketidakbutuhan titel gue ini paling nyata gue liat di seni ini, mungkin karna seni ini yang paling 'menguasai pasar' di lingkungan gue.

Seni yang lain juga sebenernya gitu. Misalnya, tanya deh sama kapten cheers di sekolah lo, belum tentu dia tau teorinya cheerleading itu sendiri tujuan dibikinnya buat apa. Malah, no offense nih ya, gue sering liat di film2 kapten cheers digambarin sebagai sosok yg ga tau apa2 selain cara cheerleading, hahaha, no offense, no offense ya. Banyak seniman yang nguasain teori2 seni kayak gitu by heart aja. Sebenernya ga cuma seniman aja sih. Pedagang misalnya, banyak tuh yg sukses dulu baru masuk sekolah bisnis(mungkin mau lebih sukses, ato ngejar 'pengakuan' resmi). Perdagangnya selama ini sukses gara2 insting bawaan orok. Pas masuk sekolah bisnis, ternyata teori2 yg diajarin itu selama ini udah dipraktekin duluan. Ato tentor bimbel yang ngajarnya lebih enak daripada guru2 yg bisa ngantongin izin ngajar, alias emang udah bawaanya jago ngajar. Demen banget gue sama orang2 tipe begini. Asik banget men, dilahirin built-in ilmu kayak gitu. Makanya di atas tadi gue nyebutin kalo bukan cuma seni aja sebenernya yang ga butuh titel.

Tapi disini gue mau fokus ngomongin soal seni aja dulu, soalnya dari sinilah asumsi ketidakbutuhan titel gue lahir. Gue ga mungkirin fakta kalo emang ada sarjana seni yang sukses dan bener2 brillian. They're very lucky then, they've got talent and they have the chance to get their talent be legally appreciated. Maksudnya, walaupun mereka lagi ga bikin karya, dengan gelar yang gelantungan di ujung nama mereka, orang juga bisa tau kalo mereka itu seniman ini lho, bisa bikin ini lho. Sayangnya, fakultas seni itu relatif ga murah dan minim beasiswa, terutama seni2 yang ga tergolong seni murni lagi dan berbau2 multimedia, misalnya fashion design, ato desain komunikasi visual. Padahal justru banyak seniman2 lahir - dan kadang justru mendapatkan bakat seninya, di tengah keterbatasan, termasuk keterbatasan finansial. Tapi keterbatasan finansial bukan barrier kalo lo emang cinta mati sama seni. Lo bisa jadi jagoan seni, walaupun otodidak doang. Dan karya lo tetep bisa bikin orang2 terpesona, lo tetep bisa diapresiasi dengan baik sebagai seniman.

Memang seni intinya cuma butuh diapresiasi, baik legal maupun engga. Cuma, soal pelegalan ini bisa jadi masalah pas saingan nyari kerjaan di perusahaan. Kalo penyanyi, penari, ato aktor mah lumayan ngga ganggu deh, soalnya sering diseleksi pake audisi. Lain, kalo kasusnya, misalnya lo desainer grafis berbakat jagoan, yahudlah pokoknya, yang ga punya duit kuliah di DKV (yg emang muahaal, minim beasiswa pula) trus lo apply di perusahaan, barengan sama ratusan, bahkan ribuan applicanta lain yang lulusan DKV universitas A,B,C,D,E....anything lah. Kebanyakan Hrd nya cuma liat lo lulusan mana, nilainya berapa, track record lo gimana. Okelah, kalo lo emang selama ini udah kerja profesional sama orang2, trus karya lo mereka pake dan merka akuin secara resmi, chance lo buat dilirik masih gede. Trus gimana kalo lo tipe pemalu yg cuma nyimpen karya lo sendiri, ato karya2 lo cuma nongol di galeri situs sosial, alias dipublish secara ga resmi&non-profit? Emang mau tuh para Hrd main ke situs lo trus liat2 gitu? Mengingat jumlah applicants yg biasanya banyak, emm..pesimis deh gue.

yah, dari gue sih solusinya cuma dari dua aspek, dari si Hrdnya yang mesti ngubah kriteria &sistem penerimaan employeenya, ngga lagi matok sama cv tapi juga harusnya liat satu2 hasil karya yg pernah dibikin applicantsnya...agak mustahil. Ato lo-nya yg dari awal harus aktif nyari link, ikutan lomba ini itu, pokoknya cari pengakuan resmi lah buat karya2 lo, bukan cuna sekedar pujian orang2, di-like banyak orang di facebook, ato nongol di search engine saking seringnya dipake orang.

Titel pendidikan seni, kadang emang ngefek banget ke masalah kerjaan, karena kriteria karyawan ideal seringkali diukur dari tingkat pendidikannya, bukan besar potensinya. Lo mesti punya 'seni' sendiri buat survive di dunia kerja kayak gini, otherwise you should remember that art actually is not made to provide profits, but to provide prosperity for the soul of its lover.

Kamis, 04 Maret 2010

Pescetarian, the Best Diet in the World


This is one of my serious writing. Jadi, ceritanya gue jadi sampel penelitian Mr. Bachtiar, beliau bikin penelitian tentang ilmu writing di sekolah. Dari seisi sekolah, diambil 6 sampel dari angkatan gue. Nah para sampel ini diminta bikin analytical exposition, trus prosesnya ini yang didokumentasiin sama Beliau. Salting juga gue nulis direkam, hahaha, agak behave dikit lah jadinya, biasanya gue kalo nulis macem-macem posisinya, haha. Kita juga dikasih kuisioner sama ada interview singkat gitu.Mungkin later gue post the whole story about this research, but now, thanks to him, i drop by here again, haha. Anyway, sebelumnya gue mau ngucapin thanks buat semua situs yang udah nyedian info-info di bawah, data-data dan gambar di bawah yang mostly gue dapet dengan cara googling, So this is it (men, sounds like farah queen, haha), my analytical expositions titled


Have you ever try, even though only in a day, not to eat land animals and birds, but only sea foods and plants? That way of eating, is called pesecetarianism, which is the best way of eating in the world.  Eggs and dairy mostly not eaten by pescetarian, but some of them do eat those.
If you be a pescetarian that do not eat land animals, it means you do not eat red meats. Earlier studies have strongly linked the consumption of red meats to colon cancer, heart disease and even diabetes, owing to their high content of unhealthy omega6 fatty acids and alarming concentration of saturated fats. USCD School of Medicine recently published the fact that a non-human, cellular molecule is absorbed into human tissues as a result of eating red meat and milk products. That molecules name Neu5Gc. Antibodies formed by body as the immune response to Neu5Gc contribute to inflammatory processes in various diseases, that is why it could be primarily responsible for any specific disease. Neu5Gc is also reported found in human cancer tissues, although they are found in small amounts. This is how eating less red meat significantly reduce your risk to a lot of diseases.
Knowing these dangers, some people decide to cut out all meats from their dishes. These people called-and call themselves vegetarian. Vegetarianism, nowadays are really popular. Ever since celebrity does this kind of diet, there are more and more vegetarian in the world. Pescetarians often wrongly recognized as vegetarians, but in fact, Pescetarians are a lot healthier. If you decide to be a vegetarian, you’d better be prepared to manage the details of nutrition in any of your meal, in order to get all the nutrition that your body needs. You need a very keen understanding of protein and how to get the right quantity and quality you need.  Vegetarians use soya for the main source of protein, but a study conducted over a period of time shows that people who had soya for their only source of protein had their testosterone level dipped up to 75%. A pescetarian handled this fact by eating seafood to get the enough amounts of proteins. As a vegetarian, you also need double portion of iron, because plants only contains heme-iron, the kind of irons that slowly absorbed by human body, and they are also absorbed in lower amount than the iron found in meats. Therefore, some vegetarians end up suffering anemia, but pescetarian doesn’t, because seafood contains the same kind of iron found in meats. The adequate consumption of tuna, mackerel and salmon also can combat deficiency of vitamin D3.
Fish products do not have the same dangers as red meats; in fact it may help to prevent those dangers. Most types of fish contain large quantities of polyunsaturated omega3 fatty acids, which have been implicated in the treatment of everything, form disease to depression to attention deficit disorder. Omega3 fatty acid is only found in fish. In 2004, Food and Drugs Association declare that omega3 fatty acids can combat the risk of coronary heart disease. This shows how being a pescetarian can improve your health.
Pescetarian diet is very much similar to the way Japanese eat, who now enjoy the 1st lowest obesity rate in the developed world. They also could expect to live longer and anticipate on average of 75 years lived health and disability-free. They diet, just like Pescetarians, are include a lot of fish, plants, and what make their diet better is they serve smaller portions, eat mindfully and slowly, and they add some healthy options such as tofu and rice. But when these people start to adopt western-style diet, they will put on weight rapidly.

Being a pescetarian, is about taking as much benefits as vegetarian does, without losing the advantages of a meat-eater.

Minggu, 24 Januari 2010

DAFTAR PEMENANG PLANET SMANSA 5

buat yang ngga sempet dateng malam puncak kemaren, ini daftar pemenangnya

Artikel
1. M. Fadli Kumangki (SMAN 5 Batam)
2. Agus Salim (SMAN 1 Batam)
3. Trididin (SMAN 4 Batam)
4. Guntur Sodikin (SMAN 2 PangkalPinang)
5. Florence (SMA Maitreyawira)
6. Yessica Hasiayyati (SMA YKPPI )
 7. Atika Ramadhani (SMAN 1 Batam)
8. Melvin Yong (SMA Mahabodhi Karimun)
9. Nabila F. B. (SMAN 1 Batam)
10. Christian Iilo (SMAN 5 Batam)

 Puisi
1. PASIR OKTOBER Kartika Nindi (SMAN 4 Batam)
2. PUISI PAPA Susanti Puspita (SMAN 1 Batam)
3. PERADABAN ILMU YANG LENGANG Rozi Ramadhani (SMAN 4 Batam)
4. HITAM Zessi Methofana (SMAN 1 Batam)
5. SESAL Ayu Lestari Ningsih (SMAN1 Batam)
6. SENJA DI SUATU KOTA TUA Tigar Reiharsenaya (SMAN 8 Batam)
 7. DEMOGHOTICA Trinaldi Pamela (SMAN 4 Karimun)
8. AROGANSI KEHIDUPAN Tia Reski Ayu (SMAN 4 Batam)
 9. MELEPASKAN Telazia Calcarina (SMAN 1 Batam)
 10. HITAM PUTIH NEGERIKU Nurul Fajriah (SMA YKPP Batam)

 Cerpen
1. Ahmad Mullaimin (SMAN 3 Batam)
2. Afriyonita (SMAN 1 Batam)
 3. Dian Nita Sari (SMAN 1 Bintan)
 4. Amalia Meini (SMAN 1 Batam)
5. Indah Pratiwi (SMAN 1 Bintan)
 6. Fitri Handayani (SMAN 1 Bintan)
7. Nadia Eka (SMAN 1 Batam)
 8. Anisa Indira (SMAN 1 Batam)
 9. Hotmaria (SMAN 1 Batam)
 10. Endah Riwayatun (SMK 1 Batam)

Fotografi
1. Sudirman (No. lot 22)
2. Ulfa Sri Hartini (No. Lot 11)
3. Johanes Gunawan S. (No. Lot 15)
4. M. Emir Faizal (No. Lot 1)
5. Melani (No. Lot 34)
6. Asa Aziz (No. Lot 19)
7. M. Emir Faizal (No. Lot 2)
8. Jason Walanda (No. Lot 4)
9. Selvina Mamahit (No. Lot 9)
10. Qiqi Azwani (No. Lot 19)

Video Ekspresi
1. Evin Cs
2. Djuwita Cs
3. Gerrot

Fashion Show
 Kategori A
1. Ajeng Dwi
2. Sayang
3. Heaven

Kategori B
1. Cintian
2. Indah
3. Adinda

 Kategori C
1. Kiki Kartika
2. Yanti
3. Morisca

 Modern Dance
 1. F Crew
 2. Lumoz
3. Ledang

Band
1. D’angel
2. Alcapone
3. Majapahit

Best Players Festival Band
vocalist : forgezen everst
guitaris : blackout
bassist : alcapone
drummer : d’angel
keyboard : d’angel

selamat untuk para pemenang, buat semua yang udah berpartisipasi tetep berkarya ya

small things do matters : saying thanks

people say that love is the most magical thing happens. but i know something that could be as magical as love. the word thanks.
since its rarely and more rarely used in this era, the word 'thank you' are said less properly. a proper-said thank you has such a hugeee impact. you know, people are happier if they know that they are useful for others. that's the point of saying thanks, letting people know that they have been really helpful, and means something to another.
what about saying thanks properly, more often?

Senin, 14 Desember 2009

My Sunday 13th


    Final exam is over, and here i am staying at home although it's not holiday yet. Betapa sedikit muntahan pagi memaksa papa nulis surat sakit. Gimana ngga muntah, hari minggu-nya brunch jam tiga. Brunch, bukan lunch. it was even too late for a lunch, wasn't it? Maklumlah, sindrom anak-sekolah-kesenengan-lepas-ujian. Mental anak sekolah emang udah ngatur mata untuk otomatis melek pagi-pagi, tapi ngga bisa bikin badan bangkit dari kasur, mengingat itu hari Minggu di sebuah minggu dimana hari Minggu sangat dinanti-nati. Melek yang ngga berarti. Melek hanya untuk bersiap-siap tidur lagi. Tidur panjang.
    Mungkin di hari-hari Minggu sebelumnya, wangi sarapan bisa ngasih cukup tenaga, untuk sekedar sarapan, dan sarapan-lah yang ngejepret mata biar ngga merem lagi. But not that sunday. Mama lagi di luar kota, dan nyium wangi sarapan ala papa yang bersikeras masak sarapan sendiri malah bikin bantal menebar aroma surga untuk tidur lagi. Lelah dipekerjarodikan selama seminggu, benda 900gr yang terjepit diantara tulang-tulang kranium merasa cukup rasional memilih aroma mimpi daripada aroma roti yang samar-samar tercium dari wangi arang yang menyengat - tanpa menyadari bahwa itu ngga lebih bego daripada beruang yang hibernasi tanpa persiapan.
    Pelan tapi pasti, kenyataan memburam. 
    Semakin memburam.
    Buram yang menghanyutkan.
    Lalu cahaya itu datang. Putih dan terang.
       Bukan, itu bukan gerbang ke alam baka. Itu serangan ganas matahari sore, karena papa baru bukain gorden kamar.
    Samar-samar, jam dinding menyeringai. Jarum-jarumnya membentuk sudut 90 derajat ke arah kanan. Angka dua belas ketutup ujung jarum, ujung jarum yang lain tepat nunjuk ke titik pertemuan dua setengah lingkaran yang tersusun menurun: angka tiga. Perut keroncongan. Dari celah pintu keliatan meja makan bersih, ngga ada apa-apa kecuali tempat sendok dan isinya. Momen kesengsaraan yang sempurna. Kalo misalnya ada speaker nyala, mungkin dibunyiin "jeng-jeng jeeeeng" sekalian biar makin dramatis. Trus kameranya di zoom-in, si pemeran utamanya teriak "TIDAAAK"-full ekspresi. Tiba-tiba scenenya ganti jadi wanita ngacungin dua jari tapi nunjuk kartu bertulisan tiga. Penontonnya gerem, tapi nungguin juga sampe iklannya kelar.
    Wait, this is a life, not a drama series. Yang kejadian adalah si tokoh cerita terhuyung-huyung berjalan ke kulkas, dan semakin diiris-iris dengan kenyataan bahwa isi kulkas cuma bahan-bahan mentah. Si tokoh menarik nafas, ngambil pisau tajam mengkilat *kalo ini beneran drama series, bakal bunyi 'sriiing', dan pisaunya berkilat-kilat. Ngga, ngga bunuh diri kok. Tapi masak. Usaha yang kurang lebih sama kaya percobaan bunuh diri. Dan bunuh orang lain juga. Si tokoh berdoa untuk pencipta kecap asin, berterimakasih karena beliau telah menciptakan bahan yang bisa menggantikan garam disaat lupa dimana naro garam. Lalu pasrah memakan hasil olahannya dengan nasi. Ok, sebuah episode bunuh diri yang gagal. Selesai sudah. Si tokoh kenyang. Happily ever after. The end.


    Nope, the day didn't have a happy ending. Si tokoh lupa makan malem. She was struggling with her own fools. Her childish manner drive some people mad. She got slapped on her bold face. Now she understand how nauseating is it being people around her.  

Senin, 23 November 2009

Hey, it's my newborn kittens

long time no post
yaaap, i've been kinda bussy and idea-less these weeks
anyway, these are my newborn kitties,
puh-leeaaase help me name them . Ini demi hidup dan mati mereka. Mereka bisa gila juga kalo tiap hari ganti nama kaya sekarang. soalnya sampe sekarang satu rumah belom sepakat manggilnya apa. jadi bisa tiap setengah jam mereka ganti nama- tergantung mood pemiliknya.



♥these two below is the pics of my favourite :3



 
 


okay, these are some clues that may help popping ideas for their name
- "pusss" is the magic word. teriak "puss", dan mereka akan datang dari berbagai penjuru rumah.pernah ada yang keluar dari kulkas. gile, kecil-kecil pengen nyobain kutub utara. wawasannya luas juga ya.
- mungkin keliatannya disini cuma ada dua, tapi ada tiga. jadi ada satu yang kuning, satu abu2 tua, dan satu lagi item.
- kalo udah gede, cocok untuk pengusaha sop buntut. sangat menguntungkan, karna lebih dari separo badan mereka itu buntut. *unfortunately, they're not for sale. apalagi buat tukang daging.

- yang abu2 diem banget. kayaknya pita suaranya udah ketelen ke lambung, makanya paling gendut.this one is my favourite, ngga nyakitin kuping kalo digotong-gotong.
- yang kuning beda sendiri, kalo sodara2nya yang lain outline matanya item-dia putih.
- yang item buntutnya paling panjang. bisa dipake skipping sama sodara2nya yang lain.
- biar belom sebulan, mereka udah bisa nyuksesin gerakan anlene 10.000 langkah. kejedot itu, rutinitas harian mereka. tiap hari minimal ada satu lembar koran yang berubah jadi perca.

so, i'm looking forward for ur responds, people. kalo mereka mati gara2 ngga bisa ngafal nama sendiri, you guys are part of it.
hehe.

happy thinking, people. :)

Jumat, 09 Oktober 2009

If I were a Father

this is my local culture lesson's task, where every student have to make an essay of at least 250 words which begin with if i were...
and mine begins with the sentence,
If I were a Father

if i were a father, i would love my wife and my children. i would love my wife's family as much as i love my own. At the end of every day i would tell my children how much i love them and how precious are themselves. Every morning i would be the first who sit at the terrace, reading newspaper while waiting for my wife's delicious morning coffee. Then i would eat breakfast with the entire family, and tell my wife that she's the most talented chef in the world.

Then i would be in the driver seat of a family car (a station wagon or a mini-SUV maybe?), ready to take my children to school. I and my children would gave their mother a sweet goodbye kiss. i would be busy at my office but i would always have my dinner with my family. I would ask my children how do their day that day. I would be pleased by my wife's superb cooking. I would lead my family to pray.

After my children had been married, i and my wife would be a loving parents in law and a beloved grandfather&grandmother. At the end of my life i would be reminded in every friends and family's hearts as a grateful man with a lot of love around.

That is very much a father i would like to have but i already have one that i will always love untill the end of the time.

Senin, 24 Agustus 2009

TOMPI - Bintang Jatuh

Bintang Jatuh

download di sini


Akankah bintang jatuh
Di malamku yang biru
Dan ku kan berharap cintamu padaku
Selamanyaaa ooh

Mimpiku selalu tentangmu
Cerita cinta semalam
Dan ruang hatiku kan selalu menunggu
Kau nyata

Dan segenap hatiku selalu mensajakkan dirimu
Dia berkata

Ooh baby take my heart
Be my love forever

Melagukan dirimu
Mengagumi keindahanmu

Ooh baby take my soul
Be my love forever

Akankah malam itu datang
Akankah bintang berjatuhan
Akankah cintaku terbalas
Akankah hatimu mendengar

ga kenapa-napa, gw cuma lagi seneng lagu ini aja. salah satu lagu yg gue rekomen.
hehe

enjoy it
:)

Sabtu, 22 Agustus 2009

waktu, seperti nanny mcphee

time and nanny mcphee has the same rule :
When you need me but do not want me, then I must stay
When you want me but no longer need me
then I have to go.

iya gak?
seringkali orang bingung mau ngapain pas ada waktu kosong, padahal sesungguhnya, sadar gak sadar banyak kerjaan menanti, banyak hal yang harus dikerjain . waktu seakan sia-sia, jarum jam seperti kompas yang udah diarahin ke utara, gak muter2 .
pas lo lagi pengen banget waktu buat ngerjain ini itu, jarum jam berputar seperti gasing, gak pernah dateng.

yeaa, at least that's how time has running on my last days

sekalinya sibuk, sibuk gila
sekalinya libur, bengong parah

menjelang puasa, sekolah ngasih libur empat hari,
yaa, gak cuma sekolah gw aja sih, seIndonesia mungkin

seharusnya, sebagai anak sekolah yang normal dan binal (lho?), minimal gw jerit "YEAAAAA!" pake nada sol, 4 ketuk
tapi, entah setan (atau malaikat?) apa yang merasuk ke dalam jiwa dan kalbu, muka gw malah cemberut
mungkin karna baru beberapa hari gw menikmati bangku kedua dari depan dan kedua dari kiri - lokasi kejayaaan gw di ruang kelas, pasca kemping mendadak tiga hari.
ini maksud gw, sekali sibuk, (sok) sibuk gila

kenapa gw sebut kemping mendadak?
begini. kempingnya kamis pagi. dan 'mandat' kemping baru meluncur dari mulut kakak gw, hari rabu jam 9 kurang sekian menit. bukan, bukan jam sembilan pagi. jam 9 malam. 21.00 wib. maksud gw, 22.lebih sekian WIB. dan dari pembina gw sama sekali belum ada kepastian.
besok paginya, gw dateng ke sekolah. telat pula.
setelah ngurusin perkara keterlambatan gw, gw masuk kelas. naro tas.
temen gw yang katanya mau kemping juga langsung ngajak nyari pembina gw.
dan akhirnya, perintah kemping turun jam 8 pagi lewat sekian.
Kondisinya : gw belom nyiapin apa2, nyiapin niat juga belom.
nyelononglah gw masuk kelas, ngambil tas dan pamit ke guru yang lagi ngajar di depan.
reaksi sekelas : bingung. (beberapa terlihat bersyukur, beberapa terlihat kaget, tapi paling banyak terlihat NGIRI. karena hari itu ada ulangan kimia. hahaha)
pulanglah gw kerumah, menyiapkan ini itu .
ransel sudah dipundak, jinjingan sudah dipegang, melangkah ke depan rumah.
gerbang rumah tinggal digapai, tiba2 nyokap teriak dari dalem rumah.
"DE! tunggu de!"
pikiran gw, mau ngucapin kata2 perpisahan, bilang bakal kangen ato apa gitu yang dramatisan dikit.
ternyata?
minta tolong benerin lampu.
secara gw perempuan tertinggi di rumah, nyokap ga nyampe 160cm, kakak gw pun sepertinya belum mencapai angka segitu. gw? baru lewat sesentian lah.(tapi lagaknya sok tinggi banget yah, haha)
lalu gw berangkat, kali ini langkah gw tidak diinterupsi lagi.

selama kemping, stylus hengpong gw berubah jadi swiss knife, berfungsi ganda.
buat buka bungkus garam, jadi tusuk konde rambut, buat bantuin masang colokan kaki dua di bolongan kaki tiga, de el el.
fungsi utamanya justru terabaikan, secara hengpongnya mengap mengap sekarat, listrik cuma ada malem doang.
pas malem sebelum kemping, gw lupa ngecas. memang bener2 ga siap buat kemping

rangkuman kegiatan kemping:
kempingnya berjalan dengan baik, lancar, dan menarik.

sabtu pagi, gw nongol lagi di sekolahan, masih dengan ransel dan jinjingan.
gw engga pulang dulu ke rumah, gw langsung ke sekolah.
alhamdulillah udah mandi, jadi kedatangan gw ke sekolah tidak diikuti asap2 ijo beraroma menyengat (layaknya di kartun2 kalo jagoan baru pulang dari hutan ato baru kelelep di septic tank)

nyampe sekolah, lagi ada pertandingan final futsal. tontonan yang tidak menarik, secara bukan kelas gw yang main juga.
masuk kelas, kerjaan sudah menanti, masang jadwal pelajaran di papan info kelas.
ransel belum dilepas, yjinjingan ditaro di meja, berkutat dengan dobeltip. dan tadaaaa, akhirnya jadi.
sebenernya gw ke sekolah mau ngejar acara pembinaan osis, jadi setelah kerjaan di kelas selesai, gw langsung ke ruang acara pembinaan itu.
seharusnya gw buka sepatu, tapi ga inget. nyelonong aja gw masuk.
narik kursi, minjem pena, minta kertas, dan mengikuti acara dengan baik dan benar.
jarum jam nyaris membentuk sudut 180 derajat pas gw nyampe rumah, nyaris magrib.
ato justru udah lewat?
gak ingetlah.
saat saat kaya gitu, waktu jadi benda yang sangat gw inginkan. waktu untuk sekedar ngisi tenaga, memenuhi kebutuhan emosi untuk melakukan ini - itu, sekedar waktu untuk diri sendiri.
agenda begitu penuh, post it nempel disana sini. tugas menumpuk, ulangan menanti.
belum lagi mading tahunan yang menyita hari tujuhbelasan selama seharian.
dalam beberapa hari yang sibuk itu, kesempatan membaringkan badan sambil memejamkan mata hanya di malam hari saja.
ngeluh, banyak banget kerjaan.

tapi di kala libur seperti ini,
baring baring jadi hal yang paling basi, kerjaan justru di cari.
malah ngeluh nggak ada kerjaan.
padahal nanti, waktu kayak gini bakal dicari-cari.

apa ini sekedar dorongan hati untuk mengeluh, di saat senggang maupun sibuk?
well, better i stop complaining by ending this post
tadaa, see ya
:)

Rabu, 12 Agustus 2009

seven up modifikasi

such a small thing can mean big

that's my quote of this day

why?
simpel. gara-gara jam pelajaran agama di kelas gue.
hari ini, Bu Ibeth (guru agama gw) asik gilaa.
menyingkirkan buku dari meja, beliau malah ngajak kelas buat main semacem permainan seven up gitu.
Seven up, maksudnya, permainan yang dimainin segrup orang. cara mainnya, ntar setiap orang digrup bergiliran ngitung dari satu sampe seratus, tapi yang dapet angka yang belakangya tujuh harus bilang seven up.
di pelajaran agama tadi, peraturannya setiap KELIPATAN TUJUH dan bilangan yang berakhiran tujuh bilang Allahu Akbar.
*pamer dikit : gue dua besar orang yang bertahan. kalah ama gusti guaa. aduh, si gusti memang Mantap.
hahaha.

permainan ini memang kedengeran gampang. tapi kalo dimainini 26 orang yang akan ulangan fisika? lain cerita. hahaha.
bener2 butuh fokus dan konsentrasi.

kelas gue cuma nyampe angka 83, that's quite a number.
secara awal2 nyampe 40 pun engga.

dalem hati, gue mikir. sebenernya materi apa yang bakal dibahas guru gue?
ternyata, Iman kepada Rasul.
kenapa beliau ngajak main seven up modifikasi itu?
beliau ingin menunjukkan, pengertian iman yang sesungguhnya.
percaya dalam hati, diucapkan di mulut dan ditunjukkan dgn tindakan.
maksudnya gini.
secara teori, permainan tadi gampang kan? semua pasti percaya bahwa mereka bisa .
dan pas ditanya, yakin bisa nyampe 100 ga ngitungnya?
koor semua, yakin.

tapi ternyata prakteknya, engga gampang kan?

jadi, sekedar yakin dan ngucapin, semua bisa. prakteknya?
jadi, iman itu tidak semudah percaya di udara ada oksigen.

pelajaran lain dari permainan itu,
OPTIMIS
kenapa?
ibaratkan ngitung sampe 100 itu misi, dan aturan untuk nyebut AllahuAkbar tadi gangguannya. susah kan?
di awal pasti gak bisa langsung sukses nyampe 100.
kan kalo gak udah satu orang salah sebut, aturannya suruh ulang dari awal lagi.
tapi pasti penasaran, ada keyakinan bahwa akhirnya, kalo sabar, dan terus latihan, bakal nyampe 100 . dan bakal semangat banget ngejar si 100 ini.
buktinya? dari yang awal ga nyampe 50, di percobaan kesekian bisa nyampe angka 83.

nah, keyakinan buat nyampe 100 itu, keoptimisan.
biar gagal, ngulang terus sampe bisa.

that's simply how struggling in life described.
biar segagal apapun, yakin bahwa tujuan bisa dicapai.
percaya, yakin, semangat untuk berjuang.
there's gonna be a good news in the end.

eniwei
ulangan kimia.
besok.
dan besok tinggal beberapa jam lagi.
dan buku kimia masih gw bebas dari sentuhan sidik jari gw.
oow.

so, i guess that's really what i should share today.

| 163, 7, leadership, health, heart | ( what i should be optimistic to)

Sabtu, 08 Agustus 2009

Sempit

Dunia itu luas
Indonesia Raya menghampar dri sabang sampe merauke
Tapi batam itu sempit

Mau bukti?
Oke, gini
Jadi, sebelum liburan kemaren, gw ikut sebuah workshop, ttg fotografi
Well
Sebenernya gw expect 'isi' workshop nya 'lebih'
Tpi satu hal yg gw ambil dri workshop itu: ketemu orang2 lama
orang2 lama yg gw maksud adalah orang2 yg pernah ketemu ato nemu gw
Yg pertama : adek2 kelas gw di SMP
Kedua : kakak yg pernah ngajarin gw, ternyata alumni SMA gw, temennya orang yg duduk di sebelah gw
yg paling panjaaang tautannya:
nyokapnya temen gw yg pernah ky adik sendiri, yg dateng bersama dua anak beliau : temen sempoa kakak gw dan kakaknya.
nah, si temen sempoa kakak gw ini, dulu satu SMP sama sahabat gw, ayu. temen sempoa kakak gw, biar singkat, sebut saja R, dulu ternyata juga temen sempoa ketua kelas gw. guru sempoa kami berempat (gw juga ikutan ) sekarang jadi tetangga depan rumah gw.
nah, temen deketnya si R ini, ternyata temen SD kakak kelas gw, temen SMP sahabat gw dan pernah jadi tetangga temen sebangku gw.
nah si R juga temennya temen SMP gw & temen SD sahabat gw yg di malaysia.

Bingung?
Biar gw gambarin diagram aja



grr
tambah bingung?
iya emang jelek tulisan gw
hhaha

Selasa, 04 Agustus 2009

Ironi Pagi

Suara hengpong subuh-subuh adalah sebuah ironi
Di satu sisi, gw tau siapa yg nelvon, untuk apa
Ingin rasany kesadaran sudah diatas 50%
Di sisi lain, pengen gw lempar itu hengpong
Gw masih ngantuk gilaaaa
(secara kemaren cuma tidur sejam)

Suara hengpong yg gw setel roaring guitar kontras sekali dg suara lain yg biasany juga gw denger saat kesadaran sudah diatas rata-rata,
Suara adzan subuh

Jadilah
Di saat biru tuanya langit sudah mulai memudar
Bersahut-sahutan tiga suara ngebangunin gw
Suara adzan, hengpong, dan tentunya, nyokap yg nyalain tv
Di keadaan normal, seharusnya detik-detik segitu gw udah duduk manis di ruang tamu-nerima telvon
Tapi hari ini, gw angkat itu telvon
Mengucapkan greeting standar- halo, assalamualaikum,
Lalu mata merem lagi, udah gak bisa diajak kompromi