Senin, 12 Juli 2010

The Last Day of Holiday - Petualangan Kandang (Tukang) Bebek

ha-a-a-lloo-oo
gu-e su-dah nga-a-an-tuk
ta-a-pi ta-aa-ngan gu-e gua-aa-teel

udah ah. capek nulis model gitu. kesannya gue kayak kesurupan aziz gagap ngebanci versi tertulis.

gue beneran ngantuk - dan sudah seharusnya begitu. besok adalah senin pertama gue, sebagai senior sekolahan - end of holiday.

buat gue, liburan kali ini, bener2 perlu dimaknain.ini liburan terakhir gue yang bisa dinikmatin di masa SMA. iyep, tomorrow i would officially be a 12th grader. Even closer to university, to work, to old ages. life's fast.

then, gue dan empat temen gue - tergabung dalam Kandang Bebek, sebuah lingkaran pertemanan yang dinamai berdasarkan suara yang kami hasilkan dalam setiap conference call : suara konser di truk bebek mau digoreng - membuat sebuah keputusan mendadak untuk jalan-jalan. Our first and only hang out in this holiday, komplit berlima. soalnya, selain Kandang Bebek, kita juga bisa dinamain Kandang Seribu Tukang. Kita berlima, selain tukang bikin ribut, juga kerap merangkap berprofesi sebagai tukang-tukang lain. Gue, misalnya, sering sekali tertangkap kering sedang menukangi gambar di layar komputer, dengan siku berbentuk 90 derajat nyaris sempurna - tukang ketik, tukang edit, tukang tolong-ketikin, tukang tolong-bikinin-presentasi-gue-dong, tukang-tolong-selesein-makalah-kelompok-ya, tukang-tolong-download-in-ya. Atau temen gue yang lain, Nollie, sering tertangkap wangi di dapur rumahnya, menjadi tukang ulen adonan kue- dilakukan sambil nyanyi salawat - tips buat bikin kue yang enyak tenyan yang juga kerap merangkap sebagai tukang-bikinin-kue, tukang ajarin-bikinin-kue-dong, tukang nyanyiin-gue-dong-gue-butek, tukang tolong-pijetin-gue-dong, dan tukang-tukang tolong lainnya yang membuat kita tenggelam dalam kesibukan ber'tukang-ria' masing-masing, even in holidays. Liburan kali ini misalnya, gue kejebak jadi tukang-bikin-riot-camp, dan temen gue yang lain, Aya, terjebak jadi tukang-joget-tradisional atau bahasa bagusnya: penari. Gue di Batam, Aya di Jakarta. Terus gue 'terculik' ke Jakarta, Aya ke Jogja, sementara temen gue yang lain, Reza, jadi tukang-geol-melayu a.k.a penari melayu di Batam. Then, Nollie, jadi tukang jalan-jalan di Padang. Ayu, jadi tukang mengurus-adik-yang-beranjak-berandal-akibat-pergaulan-anak-SD-jaman-sekarang. Menjelang akhir libur sekolah, kegiatan pertukangan kita mulai mereda. Palingan gue sama Reza doang jadi tukang urus daging-daging baru di sekolahan. Dan baru di jam-jam terakhir liburan terakhir kita sebagai anak 'tengah' sekolahan, kita bener-bener bebas dari segala kegiatan pertukangan.

Kita jalan ke Ocarina, niatnya mau nyobain rumah hantu yang baru buka. Nyampe di sana, kita yang jadi hantu. Berkeliaran dengan jiwa yang tidak tenang. Kita laper, tukang jual makanan di sana sangat-terbatas, terlebih dengan budget yang juga terbatas. Kita juga belum mau masuk rumah hantu, nunggu langit lebih gelap biar suasananya semakin mencekam - padahal biar masih siang juga jantung kita udah mulai bikin atraksi perkusi solo.

Berembuk sebentar, akhirnya, kita mutusin jalan-jalan dulu.

Sebagai anak kota tulen, yang ditunjukkan dengan bahan obrolan berupa gosip paling up to date: kasus Peterporn dan kalimat-kalimat penyedapnya ("Eh katanya vokalis peterband-nya mau diganti loh!" , "Eh katanya masih ada 32 video lagi loh!" "Wuih, seolah-olah tiap provinsi satu ya, jadi kayak pemilihan miss video-peterpon Indonesia" , "Eh punya video model gitu juga gak? katanya videonya sampe laku dijual 500ribu loh.""Banyak tuh di rumah, video si Birong Mandi", dll) begitu ngeliat sekelompok layang-layang, muka kita beneran model anak layangan semua - model anak A-LAY. Terkagum kagum, tergemes-gemes, terkenang jaman jahiliyah 7-8 tahun yang lalu, disaat selalu dianggap pilek walaupun kenyataannya malah terlalu sehat- jaman masih anak ingusan. Masa kecil.

Menonton masa kecil seseorang, kadang, bahkan seringkali, menjadi hiburan yang sangat menarik - seperti yang kita rasakan sore itu. Capek mendongak liat layangan, kita semakin kelaperan, dan jalan ke stand makanan. setelah masing-masing sudah memegang sesuatu untuk dicerna, kita duduk di pinggir taman hiburan anak di Ocarina, ngeliatin orang-orang yang lalu lalang, orang-orang yang main-main di situ. Dari beragam jenis orang yang bolak balik dengan macam-macam cara: jalan kaki, loncat, sepedaan, naik kuda-kudaan, kita berlima terpaku ngeliatin orang-orang dan mainan kuda-kudaan mereka. No, terpaku isn't a proper word. Terbahak terngakak-ngakak lebih tepat.

Lo tau kan, kuda-kudaan yang mesti digenjot biar jalan? Ngeliat anak kecil naik kuda-kudaan mini model begitu, mungkin lo cuma bakal tersenyum-senyum bergemas-ria. Lah kalo ngeliat mbak-mbak, mas-mas naik kudaan model begitu yang gedenya nyaris segede aslinya? temen gue sampe agak ngeres ngeliatnya. Tontonan kuda-kudaan paling menarik sore itu adalah tiga bersaudara dan kisah kuda-kudaannya masing-masing.

Dua anak laki-laki kecil, yang hampir terlihat kembar - setelah belakangan gue tau mereka cuma kakak adik dengan kemiripan yang berlebihan, mencoba menaiki kuda-kudaan yang ukuran nyaris segede aslinya. Kaki mereka enggak nyampe. Walhasil, mereka lebih kayak olahraga satu kaki sambil akrobat di atas kuda-kudaan: beberapa meter pertama, kaki kanan mereka menjungkang di atas badan kuda-kudaan sementara badan mereka miring ke kiri, dengan kaki kiri menggenjot pedal kuda-kudaan. beberapa meter kemudian, giliran kaki kiri yang menjungkang di atas badan kuda-kudaan. setelah beberapa putaran, mereka bakal tergeletak lemas di atas kuda-kudaan masing-masing, terkulai memeluk leher si kuda-kudaan. Dan si kakak-adik nyaris kembar ini, adalah pasangan kakak-adik manis yang kompak dan saling menyayangi. Kalo yang satu nabrak, yang satu lagi, bertenggang rasa, akan ikutan nabrak juga, menabrak saudaranya yang lagi nabrak. Sayang banget gue nggak ngerekam pasangan kakak-adik ini. Karna mereka melakukan hal-hal aneh diluar batas kemampuan deskripsi keadaan aneh gue. Misalnya, entah karena alasan apa, saat si adik sudah kelelahan mencoba mengenjot maju kuda-kudaannya, sang kakak penyayang tiba-tiba berubah brutal menarik ekor kuda-kudaan adiknya sehingga segala usaha akrobatik si adik menjadi sia-sia - dan si adik jatuh kelelahan di atas kudanya. Kemudian si kakak akan menabrak si adik, lalu tiba-tiba dengan sangat akur mereka saling membantu bermain akrobat kuda-kudaan genjot.

Adik yang paling kecil, perempuan, memilih kuda-kudaan genjot kecil, yang jelas-jelas mampu dia naiki, untuk dibawa jalan-jalan keliling taman kayak anjing peliharaan. Si adik dan si anjing-kuda-kudaan peliharaan berjalan-jalan dengan manis menikmati pemandangan - sampai langit memerah dan mereka harus sekeluarga, harus pulang. Pas mereka mau pulang, gue kejar bapak tiga anak ajaib ini untuk minta ijin fotoin tiga bersaudara absurd ini. Kalo ada diantara lo yang ngunjungin Ocarina, butuh hiburan dan punya cukup duit buat nyewa tiga kuda-kudaan genjot, cari tiga bersaudara ini:

beberapa menit dari masa kecil tiga bersaudara ini, berhasil melempemkan kegaringan sore hari terakhir liburan gue. saking lempemnya sampe lentur kayak trampoling: gue ketawa mantul2.

si Rumah Hantu, yang seharusnya jadi main attraction hari itu, malah jadi ajang pukul-pukulan gue dan Ayu. Tiga temen gue yang lain masuk duluan ke rumah Hantu, gue dan Ayu masuk setelah sebuah pertarungan suit, pertarungan suit jepang pertama yang gue menangin tahun ini. Okay, gue ngaku, pertarungan suit apa aja pertama yang gue menangin dalam 2 tahun terakhir. Gue hompimpah aja bisa kalah.

Kita masuk jam 7an malem. Sebenernya kita mau masuk dari jam 6an, tapi kata petugasnya hantunya lagi solat. Setelah para hantu selesai menemui Tuhannya, kita siap-siap buat kaget dan ketakutan. Secara gue dan Ayu masuk terakhir, kita gak sekaget dan seketakutan tiga orang tukang kaget dan tukang jerit ketakutan yang kebetulan masuk duluan. Mereka kaget sejadi-jadinya sampe nangis, sementara kita, malah membantai hantu-hantu jadi-jadian tersebut. Begitulah ekspresi agak-kaget gue dan Ayu: nonjok. Lagian, hantunya agak abal-abalan. Hantu Pocong, yang terbuat dari seorang lelaki berumur 20-an yang make mukenah dan topeng, ditonjok Ayu sampe topengnya copot dan lari-lari kabur then gedor-gedor dinding. Sebenernya, kita beli tiket buat ditakut-takutin ato buat nakut-nakutin?

Two thumbs down deh, buat rumah Hantunya. lebih cocok dinamain rumah Takut - dimana temen lo ditakutin dan lo bales nakut-nakutin orang yang telah menakut-nakutin temen lo.

well, kalo gitu, gue namain saat ini sebagai jam Takut: takut kesiangan bangun di senin pertama gue sebagai senior sekolahan.

Good late night, people.
Happy new academic year.

Selasa, 06 Juli 2010

During the Flight on June 30th 2010

well, i am a high-tech hostage. di saat gue nulis ini, gue lagi di atas penerbangan  SJ0033. my first flight alone, literally.

iyep, 16 taun gue idup, gue ga pernah naik pesawat sesendiri ini. biasanya kalo gue travel tanpa orangtua, gue dititip sama pramugari ato kenalan2 nyokap gue. walaupun kenalan on the spot. biasanya nyokap bakal ikut check in ngurus bagasi, ngajak ngomong ibu2 yang satu antrian,and the next thing i know is tiba2 gue dititip sama si ibu2 nan malang itu. that's what i mean by 'kenalan on the spot'.

kali ini, gue sengaja check in sendiri. ngacir dari nyokap. dan gue langsung kualat. dompet gue jatoh di bawah palang troli. pas gue bangkit dari ngambil dompet, kepala gue kejedot palang. tepat di ubun2. kenceng pula.
the lesson is, ridho tuhan adalah ridho orangtua. jangan sampe elo kualat, terutama dengan cara sebodoh gue.

mengingat gue agak telat check in-nya, gue ga bisa request seat. gue dapet seat 1b. gue duduk diantara dua bapak2 yang kayak pinang dibelah gergaji. 180 derajat beda. sebelah kiri gue, duduk deket jendela, adalah bapak2 berambut gondrong model chrisye yang entah kenapa sangat excited memotret pemandangan dari jendela pesawat. pake blitz pula. gue, jadi ngerasa seolah2 pesawat yg gue tumpangin waktu itu ada built in petir indoor.

then, di sebelah kanan gue, adalah bapak2 setengah botak (atau botak setengah?) yang style-nya sangat pengusaha, sepanjang perjalanan baca buku-nya Andrea Hirata yang paling baru. gue lupa judulnya.

ketika mereka berdua liat2an, gue berasa kayak kaca retak yang misahin mereka.

gue sempet ngobrol dikit sama si bapak ber-style pengusaha. and  i found out something quite interesting in our conversation. gue sempet ditanya mau ngapain ke Jakarta, dan ketika gue jawab gue kepilih ikutan semacem forum untuk pemuda Indonesia - si bapak langsung nyeletuk, "Kamu anak siapa? Bapakmu kerja dimana?"

as a result, bergaung di kepala gue, nyaris teromongkan di mulut,
"Do we need to be somebody's daughter in order to be heard in a national forum?"

apa hanya anak-anak dari 'orang-orang tertentu' yang bisa bersuara dalam forum nasional?
apa pekerjaan orangtua menentukan lingkup pendengar aspirasi seseorang?

it's 2010. it should be answered, no more. bahkan sejak dulu, selalu ada 'nobody' yang berhasil berbicara di depan rakyat senegara. bahkan masyarakat sedunia.
then, why, in this post modern world, it's not the aspiration that matters, it's the background of the speaker that matters?

gue ngerasa, jawaban kayak gini agak ga sopan. agak ngelawan. then i only answered
"Saya anak pak Bubun Bunyamin, musisi. Bapak baca buku apa?"

the bald man distracted. gue berhasil ngeganti topik pembicaraan. a long derscription about that Andrea Hirata's book ended the conversation.


this is only the beginning of my 2nd holiday hostaging. wonder what's gonna be next...

Rabu, 30 Juni 2010

By for Now

Well, hello. Again.

I'm gonna be off for duty again. 6 hari. Secara koneksi internet di hp gue ga jalan, itu berarti...

Selamat tinggal, Peradaban.
Goodbye, Civilization.

note:
 gue lagi nunggu foto2 camp dari temen gue. i'm planning to blog them. a pictures could tell a million words. lebih ekonomis. coming soon.

Senin, 28 Juni 2010

Midnight - by Adhitia Sofyan

download here


Midnight
Words and music by Adhitia Sofyan

About the song :
Can’t go to sleep, that special someone annoys you in your thoughts, and it makes you exhausted.

Here today gone tomorrow
Washed away all my sorrow
There will be a time when I will come and find you again.

Leave the light on your window
I just might try to follow
There will be a time when I will finally find you

But midnight close my eyes I’m tired I’m fading
I am only human, Searching
Places I wont go where your name are written
We’re all only human, faking

Stay a while fill my hollow
Till the sky turns to yellow
There will be a time when I will come and find you again.

See the time has gone too narrow
They’ll be things you can’t borrow
There will be the day when I will finally find you

personal note:
and this kind of midnight, will frequently haunting until i can find you

Between Two Abduction

Good brunch-time people.

Well, here i am, back from the abduction; preparing for another one. Iyep, gue baru balik dari camp, a 5-days-camp, the Asean Friendship Youth Camp 2010. Kalo lo mau liat foto2nya, lo bisa liat di flickr-nya kak Iori, ato di album Facebook-nya peserta. Gue sih ga punya, soalnya gue ga bawa digicam dan camera-phone gue juga baru dicolong orang. Poor thief. Kalo hp-nya mah kayaknya syukuran, kesenengan lepas dari gue. 

Hari2 pertama di camp, gue kepengen pulang ke rumah. Tapi hari2 pertama gue di rumah gue pengen balik ke camp. Dengan mesin pijet yang selalu nempel di kaki, atau sepatu roda. Yep, camp kali ini, kaki gue dipekerja-rodikan.

So now, both of it need a massage, dan barusan nyokap gue bilang gue harus pergi massage sekarang, otherwise giliran gue bakal baru ada dua minggu lagi.


Happy life, people.

Anyway, anyone notice the blog post i write before the camp started? Well, you can write a doubt about something today, and the next day every sequence of things answering your hesitancy. Universe's planning something.

keep tracking, and together we'll figure out the plan of the Universe.

Senin, 21 Juni 2010

talking about the 'L' word.

Well, hello. i have only days before the world eats me, then puke me back into a...well quite a complicated reality.

Umm, i consider that- as just extra challenges in life, like an extra strawberry sauce in my sundae:
it would still be, and taste like a sundae; event though there's looots of strawberry sauce, i still can enjoy the sundae itself. Well, it would still be a life, a beautiful life; taste like one, even though there's some extra things you need to work on - you still can enjoy the life itself.

i know, it's another inept analogy. I've made a lot of those.

Hari ini temen gue 11 bulanan sama pacarnya. Therefore, i'll talk about something that kills someone's soul while, in the same time, sprouts a garden of flower in other's heart. You'll be reading about love, tonight, people.

uh, well to(late)night, actually.

To me, love is something far away beyond human power. I know, i'm an amateur. That's the best way i could describe love.

I don't really...well, understand isn't a proper word.
 Gue tau, cinta itu kasih sayang. Gue sayang bokap-nyokap, keluarga, that's one kind of love. Sepupu gue seneng minumin Milo sampe bergelas-gelas, walaupun orang lain udah sampe muntah dari idung, that's another kind of love.

 Love is just, an everyday thing. You won't have a day without love. Gue masih bisa bangun pagi ini, walaupun setelah hampir sesak napas gara2 nyokap naro kucing gue-yang beratnya 4 kilo lebih- di atas perut gue, setelah tidak menemukan cara lain buat bangunin gue; itu karna Tuhan masih sayang sama gue. God still have, enough love for me, to give me another day to through. Ada lampu di rumah lo, itu juga karena kecintaan Einstein sama sains.

Cinta model begini, gue, bisa dibilang, lumayan memaklumi-kalo ga dibilang ngerti. it's not really a complicated things - the simplest form of love. you love-and for really sure, be loved back by those things. Lo, punya keyakinan, bahkan kepastian, none of them would leave you for any reason. Most of the time, you get it for free - dan mereka ini bawaan lahir. Even you don't know why you love-or be loved, they start loving you from the very beginning- or vice versa, you just love them from the very beginning.

Lo ga tau -dan ga akan pernah tau kenapa. Ga ada yang tau, ga seorangpun tau. Gue ga asing banget sama cinta model begini, dan lo, juga pasti akrab banget sama cinta2 model begini. gue agak geli kebanyakan ngetik kata 'cinta' - gue berasa kayak lagi bikin lagu dangdut. But the point is, this kind of love, is why love is an universal thing. Everyone knows, everyone feels, everyone don't know why, but still, everyone do enjoy it.

see? Love is something beyond human thought, sebuah bentuk paling ajaib dari keajaiban.

But, there's another form of love, yang gue rasa, gue pernah rasain. Spesies perasaan antara temen gue dan pacarnya -yang-sudah-hampir-setahun itu. Spesies yang tidak akan pernah punah. Spesies dengan variasi yang luar-biasa maha beraneka ragam. Ada yang bilang monyet, puppy, tapi ada yang juga yang disebut sejati -sampe mati.
 Cinta yang melibatkan dua anak manusia dari dunianya masing2, baik sebagai objek, subjek atau subjek dan objek yang saling mengenai dan dikenai. Cinta yang lahir setelah bertahun-tahun kehidupan.
Cinta yang seringkali, dikastakan paling tinggi dalam hati manusia. Bahkan, kadang2, memerintah di atas logika. Bisa membuat tindakan paling bodoh terlihat menjadi sebuah pilihan paling cerdas.

Beberapa orang, menggolongkan 'tindakan paling bodoh' itu sebagai, tindakan romantis. Menurut gue, jaman sekarang, perbedaan romantis, over public-display-affection, dan dibego-begoin sejelas batas antara warna abu-abu paling muda dan warna putih: some people get lost on the constraint of them. Semakin hari, semakin kabur, very much adalah hasil kerja those untrue lovers. Ya, ketika seseorang mengaku memahami cinta, saat itulah sebenarnya dia merusak arti cinta itu sendiri. Ya, gue makin kedengeran kayak Rhoma Irama. In this case, gue adalah Rhima Irama. Walaupun bulu dada gue ga sebanyak Papa Rhoma ato abang Ridho, tapi jumlah bulu di baju2 gue jauh lebih banyak daripada gabungan bulu-bulu mereka, thanks to kucing2 gue yang suka mangkal di lemari.

Romantis, over public-display-affection (over PDA) dan dibego2in. Kalo cinta punya pengacara, tiga nama inilah yang bakal paling sering digugat atas pasal pencemaran nama baik. Sayangnya, mami Herdiana-lah yang jadi pengacara, dan Cinta Laura-lah yang diurus masalahnya. Hasilnya, sidang uang kontrak sinetron dimenangkan oleh siapa gue juga ga tau.

Gue sih lebih milih jadi pengacara-nya si Romantis. Gue pernah ketemu orang yang namanya Cinta, yang justru malah memperburuk pemahaman gue terhadap kata 'cinta' itu sendiri, dan gue pasti kalah kalo gue memandang buruk klien gue sendiri. Gue emang ga pernah ketemu orang yang namanya Romantis, Over PDA ato dibego2in, tapi gue rasa, kepentingan-nya si Romantis yang sering dijajah. Romantis sering disamakan dengan dua nama diatas. Tindakan kedua nama diatas, seringkali diatasnamakan Romantis.

Ketika seorang pacar bekerja layaknya supir pribadi 24-jam tanpa bayaran-atau-even-uang bensin-bahkan-kata-terimakasih, any damage that it caused bukan salahnya si Romantis. Ini salahnya dibego2in. Ketika timeline twitter lo penuh dengan pasangan-pasangan yang menyalahgunakan fungsi ReTweet untuk berbalas-balasan tweet, yang sebenarnya, akan menjadi romantis jika tempatnya di inbox text message ponsel masing2, ketidaknyamanan elo ngeliat timeline lo, bukan salahnya si Romantis. Ini salahnya si Over PDA. Kalo

Beberapa contoh kasus lain, yang sering mengatasnamakan Romantis:
- Ketika ada anak kecil yang mentalnya keganggu gara2 orang mesra2an yang ga tau tempat, ini salahnya si over PDA
- Ketika ada pacar yang pas nonton justru ga ngerti isi filmnya gara2 bolak balik disuruh beli beverages, ini salahnya si dibego2in

Romantis, seharusnya, adalah sesuatu yang bikin orang tersenyum dan terinspirasi, bukan malah muak dan pengen muntah.

Well, i'm not an expert of this. I'm sorry if this is love from a misplaced corner. I've told ya, when someone act as she/he is a love Guru, that's when she/he shatter the meaning of love, in the most unearthly way.

Kamis, 17 Juni 2010

Bahkan dalam dunia contek-mencontek antar pelajar, masih ada etika yang harus dipenuhi

i'd better start writing before life stops me.

11 tahun gue jadi siswa, gue bisa dibilang sudah cukup kebal sama yang namanya ujian akhir. various kind of it. UAS, UAN. yang gue belom cobain cuma UASBN aja. soalnya gue udah lulus SD dari taun kapan, dan gue ga berminat mengulang ujian SD. No, gue ga mau ada bukti fisik yang menunjukkan perkembangan otak gue dan otak anak SD cuma beda tipis, it could tell you they're slighty above me. Sebenernya, dari segi fisik, gue masih layak ikut ujian SD. Pertumbuhan badan gue, seperti halnya tingkah laku gue, sesuka-suka jidat. Cenderung tidak tergesa-gesa. Ini bisa dibilang faktor keturunan. nyokap gue juga kecil banget, terutama kakinya. Kayaknya, kaki nyokap gue berhenti tumbuh pas kelas 5 SD, soalnya ukuran sepatu nyokap gue 35, itu juga ukuran singapur. artinya, panjang kaki nyokap gue ga nyampe sejengkal gue. dan sejengkal gue aja cuma satu telunjuk orang dewasa. makanya, kadang2 kalo solat di mushola umum, sepatu nyokap gue sering dicobain anak2 kecil yang main diluar mushola, karena terlihat seperti miniatur sepatu orang dewasa. 

see? distracting me is even easier than taking candy from a diabet baby.

balik lagi soal ujian. iyep, sekitar 11 tahun, gue udah cukup makan asem garem berbagai spesies ujian tertulis. begitupun, dengan 1001 macem teknik menghadapi ujian. dari jaman teka-SD, gue belom terlalu akrab dengan berbagai cara 'serong' untuk menyelesaikan ujian. objective gue untuk setiap ujian, adalah menyelesaikannya secepat mungkin supaya gue bisa secepatnya kembali ke dunia khayalan gue. bermain dengan gembira ria.

jaman teka-SD, mental gue memang menyedihkan. gue cenderung ga peduli sama urusan sekolah. gue pernah ke sekolah lupa bawa tas. gue jarang tau jadwal pelajaran, gue bawa buku apa aja yang gue pengen bawa. gue pernah bawa katalog sophie martin, yang gue kira adalah buku bahasa inggris bergambar. Tapi, biarpun gue sembraul, kalo lagi diajarin apa aja gue tetep perhatiin, gue tergolong anak yang tidak ingin terasing dari pembicaraan orang2: whether gue ngerti ato ga, gue bakal tetap berperilaku layaknya orang-orang yang mengerti - dan gue tergolong murid yang sangat lihai dalam berpura-pura ngerti. saking jagonya gue pura2 ngerti gue bisa sampe ngga sadar kalo gue sebenrnya ga ngerti sama sekali.


dulu, gue selalu berpikir bahwa gue akan dipinang oleh pangeran dari negeri sempurna-bahagia-sejahtera-yang-jelas2-cuma-khayalan, dan hidup bahagia sebagai permaisuri. gue jaman kecil berpendapat, buat jadi permaisuri ga perlu juara kelas, ga perlu lulus ujian semester. malah dalam kartun ada kecenderungan, semakin goblok muka permaisuri, semakin terlihat cantik. dan semakin cintalah pangeran pada permaisuri bermata besar dengan mulut yang kalo lagi bengong bentuknya bundar sempurna. ya, bisa dibilang cita2 gue jaman kecil adalah jadi permaisuri. kerennya gue, gue dulu pengen jadi permaisuri yang bisa terbang. pikiran gue, gue ga bisa nyanyi sambil nari-nari kayak putri2 lain, jadi gue bakal bikin atraksi terbang aja. kalo putri2 lain nyanyi lagu2 cinta, gue,  terinspirasi dari pesawat yang bikin tulisan "The End" di setiap akhir kartun-nya cartoon network, bakal hover di udara, bikin asep yang ngebentuk gambar hati. Uh well, bisa dibilang, kurang lebih, waktu kecil gue kepengen jadi ratu lalat yang pantatnya berasap.

kadang2 gue berpikir untuk mencita-citakan profesi yang lebih realistis. profesi yang benar2 ada di dunia nyata. terus gue bercita2 jadi presiden, yang gue sadar sekarang ga lebih realistis daripada jadi permaisuri. gue pengen jadi presiden karna sering jalan2 pake pesawat sendiri. sampe sekarang, gue masih kepengen jalan2 pake pesawat sendiri. yep, gue memang selalu menggantungkan cita2 ke langit ke tujuh. cuma bidadari yang bisa nyampe.

well, memang tingkat kemampuan pertahanan gue terhadap distraksi sekuat konstruksi piramida dari kartu remi.

jaman TK-SD dulu, gue termasuk murid-murid yang berperilaku mulia, jarang liat kiri kanan setiap ujian. karna temen2 gue juga rata2 gitu, tingkahnya masih lumayan 'lurus'. masuk SMP, gue takjub dengan segala taktik temen2 gue setiap ujian. mulai dari betis berukir, sampe tisu bertulisan. pas SMA, gue justru menciptkan teknik2 ujian baru. Di UAS kemaren, sempet2nya gue dan beberapa temen gue bikin semacem sistem contek-mencontek berantai sistematis. dulu gue juga pernah sempet2nya menciptakan kode gerak khusus untuk opsi pilihan ganda. Instead of teriakin A,B,C,D, atau E, gue pake kode gerakan untuk ngasih tau jawaban gue ke orang yang nanya (or vice versa). seinget gue, dulu untuk A=pegang Jidat, B=pegang hidung , ya, pokoknya sebisa mungkin kode gerak ini adalah gerakan2 yang sangat natural untuk dilakukan, tidak mencurigakan.

well, sebenernya praktek-praktek model gini ga bener juga. Gue tetep punya batasan-batasan dalam menyeleweng, gue masih berpegang sama beberapa prinsip, norma dan etika 'serong-menyerong' dalam ujian.


berikut beberapa boundaries, tata cara, norma dan etika contek-mencontek yang baik dan benar menurut gue.

anyway, semua ini gue bikin tanpa ada maksud pointing satu kalangan ataupun orang-perorangan. Murni cuma penyaluran pikiran gue doang, ga ada maksud menjatuhkan atau meyalahkan siapa2.


1. Buat gue, persaingan antar sesama peserta ujian seharusnya se-fair mungkin. buat gue, ujian itu ibarat lomba lari: semua peserta harus mulai dari garis yang sama. itu berarti, semua peserta ujian berhak dapet kesempatan yang sama dalam hal apapun dalam ujian. pengawas harus ngasih waktu yang sama untuk setiap peserta ujian, termasuk peserta-peserta dengan kejadian khusus. misalnya lo telat dateng ujian gara2 suatu hal yang bisa ditolerir, harusnya  lo dikasih waktu lebih. kalo lo, misalnya, menemukan soal yang salah trus disuruh ngelapor soal yang bermasalah ke panitia ujian, waktu lo yang hilang selama perjalanan dan proses melaporkan bermasalah itu harusnya diganti. Dari sisi contek-menconteknya, kalo lo dapet bocoran soal ya semua juga harus dapet. Jadi semua peserta ujian, mulai dengan pengetahuan yang sama terhadap ujian, punya modal, yang secara teknis yang sama.

2. Gue, personally, ga menyarankan untuk  bikin kopelan, contekan, jimat - whatever the name is, you know what i mean. bukan apa2, menurut gue, benda2 model begitu adalah teknik kecurangan yan paling riskan karna punya bukti fisik yang bisa diperkarain. beberap orang, punya kecenderungan berekspersi tegang ketika lagi ngeliat kopelan, dan pengawas yang cermat akan mengenali ekspresi semacam itu. Kalo lo ketauan, si pengawas punya bukti buat perkarain lo ke tingkat lebih lanjut, bisa2 lo malah ga lulus. Di sisi lain, menurut gue, ujian itu seharusnya berfungsi sebagi media penguji seberapa banyak ilmu yang diserap siswa, bukan seberapa lengkap buku dan sumber informasi yang mereka miliki. dan buat gue, kalo gue ngeliat buku ato kopelan gitu, sensasi gambling dalem ujian ilang. padahal ujian adalah satu2nya media gambling halal yang gue tau. gue suka sensasi gambling dalem ujian, lo tau kan? sensasi yang muncul, tiap lo ngira2 pemikiran lo bener ato salah, cara lo menganalisis ato nebak2 jawaban bener ato engga, sensasi yang buat gue punya nilai kenikmatan tersendiri, terlebih kalo ternyata jawaban yang lo dapet dengan pemikiran2 yang ga normal, bener. buat gue, seni-nya ujian, ya disitu.

3. Gue lebih setuju sama praktek tanya kiri kanan. karna sensasi bener-ato-salah-nya itu tetep ada. keputusan 
buat ngikutin  jawaban yang dikasihn temen kiri-kanan lo, keputusan menilai suatu jawaban bener ato salah, tetep  based on elo, bukan buku lo. tetep ga ada jaminan, bahwa jawaban yang lo pilih, pasti bener. tetep ada sensasi harap-harap cemasnya. Tapi, sebagai orang yang nanya harusnya lo tau diri dikit. Orang yang lo tanya, seharusnya adalah orang yang paling lo jaga konsentrasinya dalem ujian, in order to get the most promising answer. Lebih baik lo nunggu dia yang ngeliat elo, baru elo nanya, daripada lo manggil2 dia dengan cara2 yang ngeganggu parah sampe dia ga bisa ngerjain soal gara2 elo. Lo mesti mikir, dia ngerjain ujian bukan cuma buat bantu elo doang, dia juga punya objective dan target sendiri dalem ujian. seenggaknya, lo biarin dia dapet berusaha dapet target itu, sebagai semacem ucapan terimakasih-telah-ngebantu-ujian gue.

well, it isn't a long list already...feel free to make it longer - because it's late already and i need to get to bed 

be a clever cheaters, students :P

Selasa, 15 Juni 2010

Snap Script

Well, hello again.
No, gue ga keisep blackhole. Gue juga ga salah masuk rumah. Gue juga ga pindah agama jadi hindu trus nginep di Borobudur. Nggak, gue cuma lagi UAS, makanya 'menghilang' beberapa hari.

Anyway, gue juga belom kelar ujian hari ini. Besok malah gue ujian sejarah. Ga pernah ada sejarahnya nilai sejarah gue bagus. Gue pengen bikin sejarah punya nilai ujian sejarah paling bagus seumur hidup gue, cuma paling mentok-mentok nilai bagusnya tinta merah juga. Gue pasrah deh.

Umm, it seems that life will kidnap me this holiday. I'll try to be a high-tech hostage, blogging while on the reclination.

I wish to see you soon guys,
Wish me a wonderful reclination ya

Jumat, 28 Mei 2010

RIP, Cemong

Hari ini, gue ga bisa banyak komentar. Gue, occasionally, bermuka dua. Di titik2 terendah di hidup gue, nah, saat itulah muka gue jadi dua. Selama masih ada mata yang terbuka di sekitar gue, gue bakal terlihat at least seperti drew barrymore, muka gue yang biasa, kalo ga kayak joker. Cuma sepasang mata yang pernah ngeliat gue bener2 dalam bentuk tidak karuan, basah air mata dan terisak2 nyaris seperti asma: mata kucing gue, Cemong.

Cemong, sepertinya memang dikirim untuk nemenin gue disaat-saat terberat di hidup gue. Okay, kalimat barusan emang gue contek dari teenlit.

Well, mungkin Tuhan bakal ngasih gue hidup yang lebih ringan- or He thinks i am now has been able to stand up only on my own feet on every moment in life, i am now stronger, as He took my only tool to face hard times today..

Thanks for giving me Cemong, dearest God..may all his virtue gets back to him...

below are some pictures of Cemong, those which would remind me how much a finest friendship worth..

Rabu, 26 Mei 2010

Alam Bawah Sadar

well, seems like I'm having a pra-test-writing-desired syndrome. Entah kenapa, setiap mau ada daily test gue hampir selalu nulis. yeah, these fingers always have something to say before a great war. Mungkin, alam bawah sadar gue mempersiapkan kemungkinan gue bakal mati kehabisan keringet pas ulangan -mempersiapkan kata2 terakhir dan last impression sebelum gue mati di medan perang lobus frontalis (FYI, buat para prajurit perang senasib yang akan melawan sistem koordinasi, lobus frontalis adalah pusat kecerdasan, daya ingat dan kesadaran).

umm, ngomongin alam bawah sadar, gue jadi inget kalo gue baru saja mendiscovered kehebatan alam bawah sadar. Gue itu, manusia paling pelor -nempel molor. gue bisa tidur dimana aja, kapan aja, bermodalkan senderan gue bisa lari ke dunia sinetron Indonesia - atau nama umumnya, alam mimpi. syarat gue cuma satu; jangan biarkan seekor nyamuk pun menelan even sebiji sel darah gue. Sabtu kemaren, gue ikutan kemping bareng temen2 Palang Merah. Gue baru selesai praktek Tugas Akhir pelajaran kesenian - tugas praktek kolaborasi seni yang sangat-sangat lintah, menyerap setiap tenaga sampe gue tinggal setengah idup. Mungkin gue bakal cerita tentang TA ini, tapi later deh. i need to understand my body's regulation, soon after this post. Kalo lo mau baca sedikit bahasan tentang tugas ini, lo bisa baca salah satu postingan blog temen gue, klik aja disini. Mengingat gue dateng kemping dengan keadaan setengah idup, i break my own rules about sleeping. gue kedinginan, ga bawa jaket, ga bawa kaus kaki, ga bawa autan dan gue tetep tidur. dengan sangat pulas. terbangun seperti tidur memakai pampers dry comfort : bahagia, sehat dan ceria.

tiba2, gue merinding. deket kaki gue ada jejak darah. okay, gue mikir logis. palingan ini nyamuk.

lalu gue mikir lebih logis lagi: dimana mayat nyamuknya?

masih selonjoran, gue menciptakan dugaan dugaan yang semakin lama semakin tidak terduga.

kalo tadi gue mikir itu jejak darah nyamuk, tiba2 gue mikir kalo di langit2 ruangan tidur gue ada mayat sisa dari Drag Me to Hell, sampe akhirnya temen gue bangun dan memperhatikan telapak kaki gue dengan seksama.

kembali muncul dugaan yang lebih tidak terduga,jangan2 di kaki gue tumbuh jamur berbentuk Patrick Starfish.

tiba2, temen gue ngomong:
"De, habis nginjek apaan?"
"Err, ga tau."
"coba liat deh."

diiringi irama detak jantung yang tidak abnormal, gue memperhatikan telapak kaki gue, gue histeris.
Bahkan dalam keadaan sadar, kemungkinan gue berhasil nepok nyamuk sampe mati adalah 74564234:1. Tapi, dalam keadaan dikuasai oleh alam bawah sadar, malam itu kaki gue berhasil membunuh nyamuk sampe mayatnya nemplok gepeng di telapak kaki gue, tanpa melihat. dengan telapak kaki pula.

Gue jadi percaya, bahwa sesungguhnya gue punya alam bawah sadar dengan kemampuan yang luar biasa.

Ntar gue mau tidur, tanpa membaca buku, dan kalo gue bener2 punya alam bawah sadar yang demikian kuatnya, gue akan kebangun dengan kaki di atas buku dan otak penuh memori tentang kinerja hormon manusia.

Kalo ngga?

well, goodbye world, wish me luck for everything i'll face.

Rabu, 12 Mei 2010

The Power of Laughter

Sore ini, angin gue rada ga enak. It was a west monsoon, bringing the rain to Indonesia. Wait, ini bukan geografi. Gue bahkan ga ngerti geografi.

Well, gue tipe orang yang kurang konsisten mengekspresikan kemarahan. Ya kayak tadi sore aja deh.

Dikarenakan suatu perkara yang gue ga bisa sebut disini (mengingat pepatah lama "you'll never know what's gonna happen", dalam hal ini  "what's gonna happen" diartikan secara sepihak dan sesuka hati oleh gue sebagai "siapa-yang-bakal-baca-tulisan-lo-di-dunia-maya"), gue ngerasa harus marah.

Jadilah, gue pasang muka sinis, suara ketus, menggunakan semua warisan kejudesan dari para leluhur untuk menemukan kata-kata paling pedas dan menyindir dengan sangat menyakitkan. Trus gue nunggu suasana cukup senyap, lalu berencana mengubah kesenyapan itu menjadi keheningan yang sangat tegang, dengan mengucapkan kata-kata pedas yang sudah dipikirkan masak-masak-hingga-bantet tadi dalam volume yang cukup keras untuk menjangkau seluruh sasaran.

Eh, gue lupa bilang kalo sasaran kemarahan gue tadi lumayan banyak, gede2 pula. makanya dengan sangat disengajain banget gue nyeletuknya tiga perempat teriak. Oke, gue ngaku deh. 7/8 teriak, sebenarnya. Soalnya suara gue kaya tikus kecepret banget tadi.

Respons yang diharapkan adalah para sasaran kemarahan ini menyadari kekhilafan mereka dan kembali ke jalan yang lurus, berhenti melakukan kekhilafan itu.

Okay, suasana jadi hening. Rasanya gue udah berhasil

Tapi tiba2, salah satu temen gue malah nyeletuk,
"Hah? apa sih? ngga ngerti?"
Lalu semua orang menertawakan kebodohannya. Gue pun kebawa suasana. Dan ikutan ketawa. See? Dengan mudahnya gue tergoda buat ketawa ditengah2 usaha mengekspresikan kemarahan.

Merasa gagal mengekspresikan  emosi di dunia nyata, gue pun lari ke twitter.

Gue post dua tweet berturut2 dengan pola kalimat yang sama.

"Ketawa bukan berarti ga marah"
"Ketawa bukan berarti ga kesel"

tiba, ada respons dari usernya- kak Olivia Ruben , kakak dari temen gue yang pernah gue ceritain di salah satu post gue yang judulnya Sempit

"@dedemboo ketawa bukan berati senang"

jadilah, kita saling me-reply tweet, menghasilkan percakapan seperti yang sudah dirangkum oleh calon arsitek diatas didalam salah satu post-tumblrnya, The Power of Laughter (oke, gue ngaku. gue ga punya ide lain, jadi gue colong judul postnya kak olivia, haha) :


so this list began, when she tweeted a few things in the same theme continuously, i replied, she replied, until i tweeted this:


me: ketawa bukan berati tulus. thus we have, the power of laughter #1 conceal emotion

her: #2 a medium for any kind of emotion

me: ni lama2 bikin buku #3 distracting people

her: hahaha. okey, #4 confusing people

me: #5 ice breaking, in an awkward situation

her: *habis ide

me: #6 to get along with the conversation, padahal ga ngerti :P

her: stuju2. #7 mengalihkan topik pembicaraan

me: #8 menarik perhatian ….. sebagai bahan tertawaan

her: #9 insulting someone..in a fun way

me: haha true, sarcasm is it? #10 being polite *kehabisan ide

her: iyaap. *sama, makanya mikirnya lama. mungkin, #11 menyembunyikan bebunyian yang tidak enak didengar

me: like, saaaay, ‘preeeeet’ ? :)) #12 hmmm… menguatkan joke yang -harusnya- lucu? *serius ini mulai ngaco

her: hahahaha. sepertinya akan semakin ngaco. #13 menghargai joke garing yang dikeluarkan orang yang (seharusnya) dihormati

me: sure, liat ini sampe berapa bisanya #14 biar -keliatan- pinter

her: hahahaha. okeey. cari volunteer buat nambahin? #15 menutupi kebohongan2 yang tidak saling sinkron?


me: iya tampaknya harus begitu #16 menambah bumbu dalam percakapan *kenapa gitu yaa harus bumbu? :-/*


her: habis ide. mencari volunteer untuk menambah list power of laughing seperti ini. anyone care to add more: :D


me, itu kak olivia. dan her (sekaligus she), dengan cocok sekali adalah gue (mengingat her, juga berarti remedial, atau lebih terkenal diantara gue dan temen2 SMA gue sebagai , ujian-ulang-ato-tugas-tambahan-akibat-ga-lulus-ulangan-harian)

jadi, gimana? ada yang mau menambah panjang (atau menambah ngaco list yang memang sudah ngaco ini) daftar ini?

Minggu, 09 Mei 2010

MaC Talk with Birong

MaC Talk stands for Me and Cat's talk. Secara gue sekarang satu2nya anak berwujud manusia dirumah, kakak gue lagi di luar kota nyari kuliah, I'll have a lot of conversation with my cats.

As it goes today. Ini obrolan antara gue, dan salah satu kucing gue.
Nama            : Birong
Arti Nama    : Hitam (dalam bahasa batak, birong = item)
Umur            : Sekitar 1 tahun
Jenis            : Persia
Status         : Ibu beranak 1 tanpa suami
Pekerjaan : Makan, Tidur, Menyusui, Berantakin Rumah, Ngomel2 Minta Makan



Tumben2nya, pagi2 ga ada kucing yang bangunin gue. Jadi gue keluar kamar, takut ada yang malingin mereka. Kalo mereka dimalingin, gue kasian sama malingnya. Kucing2 gue pada rakus, bisa2 uang tebusan yang gue kasih kepake buat bayar utang beli makanan mereka doang.

Gue buka pintu, gue liat Birong lagi tidur telentang ga berdosa diatas sofa ruang tengah. Di atas tumpukan baju gue yang baru disterika. Dimana baju teratas dari tumpukan baju itu adalah kemeja gue warna item dari beludru. FYI, beludru itu ibarat magnet bulu kucing. Sekali aja ada kucing yang nempel di kain beludru, biar kucingnya udah pergi bulu2nya pasti tetep nempel.

Gue geremlah.

Gue samperin, gue toel2. Ga bergeming, ngedengkur kenceng.

Gue duduk di lantai, gue ngomong di kupingnya.

Gue : Bangun oi. Bangun, udah pagi. (gue gaplak mukanya)
Birong : (bales nendang)
Gue : Okay, hari ini ga ada jatah tuna kalengan (jalan ke kulkas, ngetok2 kaleng makanan kucing pake sendok)
Birong : (mendadak udah nyampe di depan kulkas, gelendotan di kaki gue)

tiba-tiba mama keluar kamar.
Mama : Aduh kasian anak mama (heboh)
gue kira mama ngomong ama gue, kasian karna di umur yang belum ganjil 17, gue terpaksa jadi suster kucing. ternyata..
Mama : sini birong sama mama, dede ga mau kasih makan yaa?
Gue : (bengong)
Mama : (ngambil kaleng makanan kucing dari gue, ngasih birong makan, masuk kamar, tutup pintu)
Gue : subhanallah...

Selasa, 04 Mei 2010

Mayoritas

Hell yeah, History test was canceled. Jadi, si Ibu gurunya ngga bawa soal ujian gara2 ngira kalo hari itu ga akan belajar efektif.. Secara minggunya kan Hardiknas, dikiranya bakal ada acara di sekolahan. Quite strange, baru ini guru ngarep ga belajar. Biasanya murid2nya yang doa berjamaah biar ga belajar, ini malah guru yang siap-siap buat ngga belajar. Sebenernya tinggal bikin soal lagi aja kan? Tapi kelas gue kan isinya anak2 baik semua, kita ngga mau bikin repot guru. Biar Ibu guru ga usah repot2 bikin ulang soal, kita terima aja kalo ulangan batal. Dengan besar hati. Lebih tepatnya, dengan senang hati. Lebih bener lagi, dengan amat senang sekali.

As i've planned before, i'll write about a friend of mine. nih orangnya



Namanya Sonia. Lo bisa add Sonia Priyanka ini di FB. Masalah di approve ato di reject, bukan urusan gue ya, hehe. Palingan di approve lah, dia orangnya friendly banget kok. Gue udah kerja bareng dia di OSIS dari SMP sampe sekarang. Nah cerita gue ini ada hubungannya juga sih sama Hardiknas kemaren. Jadi sekolah gue diundang seminar gitu, judulnya sih tentang pendidikan. Jadi kita kirim 10 orang, asal milih aja. Kebetulan yang kepilih muslim semua, kecuali ya Sonia ini. Seminarnya jam 8. Gue telat sih datengnya, soalnya mama gue belanja ke pasar lupa bawa gue tapi inget bawa kunci. Bahasa halusnya: gue ga sengaja dikunciin.

Jam 8an mama nyampe rumah, gue sama kucing2 udah di depan pintu aja. Kita udah pada laper. Dan gue juga udah ditungguin di tempat seminar. Begitu pintu dibuka, gue langsung ngacir ke teras. Make sepatu, dibuka lagi trus balik lagi ke dalem nyari mama.
Gue lupa minta ongkos.
Abis perongkosan kelar,  berangkatlah gue ke TKP. Pas nyampe gue liat kiri kanan, nyari spanduk acara seminarnya. Trus setelah ketemu, gue langsung datengin ruangannya. PD aja gue masuk ga pake nanya2 dulu. Muka disetel songong, biar keliatan agak pinter.

Begitu masuk, gue diem dulu. Gue make jins panjang, polo shirt dan jaket khusus anggota OSIS sekolah gue. Semua utusan sekolah emang diseragamain pake kostum begitu. Di meja pendaftaran, resepsionis2nya make jilbab gede panjang sampe ke pinggang, trus pake gamis. Di atas meja ada tulisan 'akhwat', di ujung lain ruangan ada meja pendaftaran yang ada tulisan 'ikhwan'. Kiri kanan gue pada pake baju muslim semua.

Ini gue yang salah ruangan ato spanduknya yang salah tempel? Gue telponlah si Sonia ini. Ga lama kemudian, dari dalem ruangan yang penuh laki2 berpeci dan perempuan berhijab keluarlah pemadangan kontras: sesosok cewe yang kostumnya sama kaya gue. Mukanya oriental, agak kebatak2an. Wajah yang sangat familiar. Sonia.

Ternyata gue ga salah ruangan. Spanduknya juga ga salah tempel. Sekolah gue yang salah info. Dikiranya ini acara umum, ternyata pembicaranya ustad. Acaranya juga hasil koalisi himpunan mahasiswa islam sama salah satu ormas islam. Kita tetep masuk, daripada sekolahan ga ada utusan.

Baru masuk kita udah disalamin sama panitia yang cewe2. Dari sekian banyak yang masuk ruangan, kita doang yang disalamin gitu. Mungkin karna mencolok banget ya, kesannya kayak rombongan kafir pengen tobat gitu. Masuk ke dalem lagi, ternyata ga cuma kita doang yang saltum. Ada juga sekolahan swasta saltum make seragam sekolahan. Parahnya, yang cewe2 seragamnya rok pendek. Dan ketat. Dan berdandan. Dan bawa2 pena bulu2. Di atas langit selalu ada langit, di atas ngawur selalu ada yang lebih ngawur.

Balik lagi ke Sonia. Kebayang ga lo jadi Sonia gimana? lo kejebak di seminar muslim, padahal lo kristen tulen. Tapi yang namanya Indonesia, apalagi di daerah gue, Islam itu mayoritas banget. Orang2 non muslim udah kebiasa liat kebiasan2 orang muslim, kaya ngucapin assalamualikum, solat, mulai acara pake al-fatihah, etc. Malah ada yang fasih ngikutin. Ya kaya si Sonia inilah.

Gue udah kuatir aja Sonia bakal ngedumel bete sepanjang acara. Nyatanya, dia malah semangat banget. Disalamin assalamualaikum ngejawab. Pas ada yang mau sari tilawah qur'an, dia yang duluan ngartiin auzubillahiminasyaitonirozim. Lengkap : Aku berlindung kepada Allah dari godaan syeitan yang terkutuk. Pas ditanya apa kabar, ngejawab : Alhamdulillah, Luar biasa. Jangan2 kalo disana dikasih jilbab juga dia pake kali ya.

Cuma yang dia lupa, kalo cewe sama cowo dipisah, Ikhwan sama Akhwat ga boleh terlalu deket. Lah, Sonia mah orangnya amat sangat friendly. Kayaknya buat dia manusia itu cuma dua jenis: temen sama bukan temen. Laki perempuan mah dia ga peduli. Selesai acara, dia langsung nyamperin temen sekolah gue yang cowo, tojos2an, jalan bareng ke pintu. Gue keikutan lah. Pas nyampe deket pintu, kita langsung ditegorlah. Yang cewe disuruh pindah, gabung ke pintu keluar cewe. Sonia mah gerah banget sama pemisahan kaya gini. Begitu keluar ruangan, dia ngomong dengan suara bataknya yang lantang : "Udah diluar kan? udah bisa gabung dong."

Temen2 sekolahan gue udah turun lewat tangga di dalem ruangan, trus gue sama Sonia mau nyusul. Tiba2, entah darimana datangnya ada mbak2 rentangin tangan sambil teriak heboh,
"Eh eh mau kemana?"
Si mbak2nya badannya kecil. bulet. Gue jadi ngeliatnya seolah2 si mbak2 itu anak kecil lagi main buaya2an trus ngehadang kita buat naik ke kapal.
Gue kebetulan megang sampah. Dan deket tangga itu ada tong sampah. Jadi gue polos aja ngeles "Mau buang sampah."
Gue dikasih lewat. Sonia balik kanan. Diarahin lewat tangga lain.

Trus gue inget, kali ini acara ada sertifikatnya. Gue kebayang, sertifikatnya sonia bakalan begini:
Alhamdulillah, Sonia Priyanka Ginting telah mengikuti Seminar Bla3 yang diadakan oleh Ormas Islam X
trus ada cap huruf2 arabnya
Sampe disitu, ga bahaya.

trus sertifikatnya dipake buat ngelamar jadi biarawati.

Gue ga kebayang deh, hahaha.

Anyway, satu hal yang gue respect banget dari Sonia dan temen2 non muslim gue yang lain, mereka ga pernah permasalahin dominasi agama gue di kehidupan mereka. Mereka ngehargain kepercayaan gue banget. Kalo misalnya lagi bikin acara, mereka ngasih waktu luang buat solat. Trus bulan puasa, mereka hormatin ibadah gue dengan ga makan ato ngomongin makanan sembarangan.

Tapi gue? gue kadang tetep aja suka bete kalo tetangga gue bikin acara agama rame2, nyanyi2 sampe malem. Padahal cuma berapa kali setaun. Lah mereka tiap hari denger azan, biasa aja.
Mungkin gue terlalu nikmatin posisi agama gue sebagai mayoritas, gue perlu belajar cara para minoritas menerima perbedaan. Cara mereka melihat perbedaan, and deal with it.

Well,
Mayoritas bisa menguasai semuanya, tapi jarang yang menguasai bagaimana menerima kemayoritasan kaum lain, seperti apa yang dilakukan para minoritas hampir di setiap hari dalam hidupnya.
Blogged with the Flock Browser

Minggu, 02 Mei 2010

The week of test

wow, i am surprised. a group friends start blogging, all-classmates. read these raditya dika-inspired (just like me) writers : Oktaviani Azwinda, Cindy Capriyanti and Amanda Diani. See? ternyata bukan gue sendiri yang hidupnya (menyedihkan) begini. I'm no longer fooling around alone, hehe.

grrh,thanks to them, i can't refuse to write at the moment. Well, i supposed to be reading pages of history or dealing with buffers & hidrolisis. Iye, besok ulangan dobel. Sejarah dan Kimia. There's quite a story of these tests.

Jadi gini, seharusnya minggu ini jadi minggu ujian buat kelas gue.
Jadwalnya :
Senin : Sejarah (3 Subab= hafalan & 20 halaman dengan struktur 0,8% gambar dan 99,2% huruf2 font 12 line spacing 0) + Kimia(2 Bab)
Rabu : Biologi (setelah SATU kali pertemuan. dan gue ga masuk) dan tugas Dakwah
Kamis : Matematika (2 Bab)

Inget post gue yang kemaren, yang gue ga sekolah? sebenernya itu tumben2an gue ga masuk sekolah gara2 sakit. biasanya gue sesakit apa juga tetep berangkat sekolah. somehow sekolah, buat gue punya healing power tersendiri. this sounds so nerd, but it actually does. Gue pernah berangkat ke sekolah muntah2, nyampe di sekolah makan baso langsung bisa loncat2. Nyampe rumah muntah lagi. Gue curiga sekolahan pasang tolak bala penyakit, biar ga ada siswa yang ijin ga belajar gara2 sakit.

Sebenernya kalo sakit juga ga bisa ngapa2in. UKS sekolahan, patheticly adalah ruangan berkasur dua semi kantor pribadi guru olahraga gue. Mau liat UKS ada casan BBnya? ada, di sekolahan gue. Mau liat UKS ada bola volinya? ada, di sekolahan gue. Mau liat UKS yang obat2annya lengkap? ada, tapi yang jelas bukan di sekolahan gue.

Biar UKS sekolahan full AC, yang mau istirahat sakit disana mikir dua kali deh. Minimal dua kali. Mau lo sakit2 tiduran di AC 16 derajat tanpa selimut? Apalagi yang cewe. Mau lo seruangan berdua doang sama guru penjaskes gue? We're talking about the man that teaches us PE by forcing us making a 100-pages paper about basketball. The man who give us end-term test and let us passed it if only we buy 4 brand-new basketballs. Kalo gue, mikir gue mikir minimal lima kali deh. Pertama, guemikir gue ga mau tidur diliatin orang. Kedua, gue lebih ga mau lagi tidur diliatin guru. Ketiga, gue lebih ga mau lagi lagi tidur diliatin orang yang sukses bikin gue nyumpah2 tiap seminggu sekali selama dua tahun terakhir. Ketiga, gue ga mau seruangan berdua doang sama orang yang pernah bikin sekelas gue latian fisik ujan2an. Keempat, gue akan bisa istirahat deket2 orang yang bikin sobat gue pingsan gara2 tugas aerobikan. Kelima, gue bakal tambah sakit kalo denger becandaan garing lelaki paruh baya yang ga lucu sama sekali. See? His attendace is a BIG reason to not being in the School Health Unit. You don't even need more, even they're available.

Okay, stop those objurgation. Let's go back telling the week of test story. Iye, harusnya weekend ini I suffer a pasca-excessive-test syndrome : lingkaran mata iteman, mual liat buku, deg2an nunggu nilai yang ternyata ga seberapa. Apalagi ulangan sejarah barengan sama kimia. Gue ga punya sejarah nilai sejarah bagus, mengingat Kimia sering ga sejalan sama pikiran gue, kayaknya ga bakal ada sejarahnya nilai sejarah gue bagus.
Sabtunya dateng kabar kalo ulangan MTK ditunda ke minggu depan, dan ulangan Kimia pindah ke hari kamis. Gue narik nafas, tapi ngeluarinnya belom lega. I still have History waiting on Monday. Gue persiapannya masih zero, fisik masih separo2, kalo dipaksa nelen hafalan sejarah bisa mati bego.

Tapi, minggu malem gue dikabarin kalo ternyata ga jadi ulangan sejarah. Katanya temen gue nelpon gurunya langsung. Gurunya juga ga mood mau ulangan, baru pulang travel darimana gitu. Gue lupa lah. It was like a christmas in July. Gue surprise banget doa gue makbul. Dan lebih surprise lagi waktu denger temen sekelas gue beneran nelpon guru gue. Terharu, gue baru tau gue punya temen yang PDKTin guru sejarah gue, betapa suci bersih hatinya. It turns out ternyata temen gue ga holy2 amet. Ternyata yang nelpon tuh temen gue dari kelas lain, yang emang sangat sangat sangat friendly even to the unfriendly teachers. Dia ikutan rame2an nelponnya aja, mastiin kalo yang kelas gue ikutan batal ulangan. Besoknya dengan tanpa dosa gue ngakakin  temen gue yang ga tau kalo batal ulangan sampe2 rok sekolahnya ga kering (relasinya rok basah sama ulangan gue ga ngerti deh sampe sekarang, yang jelas  temen gue apes, kudu gue ketawain).

Well, mengingat kenyataan bahwa otak gue sama Kimia sering tawuran, mulailah gue nyicil belajar kimia. Selasa siangnya gue nyicil ngonsepin teks dakwah, biar malemnya tinggal ngafal.Ternyata gue malah ketiduran dari sore. So lucky, ternyata kelas gue disuruh nyusun yel2 buat ditampilin hari kamisnya, ngedukung perwakilan sekolah yang ikutan cerdas cermat. Hal peryel2an ini jadi sangat sangat bermakna. Pertama, ga jadi dakwah dan notabene pada belom siap. Kedua, ulangan biologi ditunda jadi jumat. Ketiga, ga jadi ulangan Kimia. Keempat, karna cerdas cermatnya menang, ulangan biologi hari jumat ditunda lagi jadi rabu depannya. Kelima, artinya itu ulangan2 cuma pindah jadwal doang ke minggu depan. Ulangan kimia tetep barengan sama ulangan sejarah, tetep susul2an sama ulangan biologi dan dikejar sama ulangan matematika. Plus deretan deadline tugas2. Keenam, gue tadinya mau ceritain temen kristen gue yang kejebak di seminar pemuda islam hari ini, malah cerita tentang balapan ulangan ini. Ketujuh, gue mesti berhenti berkhalawat sama laptop, mengingat hari senin beserta kroco2 ulangannya bakal mendarat dalam kurun waktu kurang lebih dari 6 jam lagi.


see you soon guys
Blogged with the Flock Browser

Kamis, 22 April 2010

Rejeki Lumayan and Annoying or Helpful?

well hello world. it's me again.
Flu gue kemaren, entah kenapa berujung jadi mual-mual. Kayaknya gue korban mutasi virus deh (yeah, otak gue membeku dan imajinasi gue meliar gara2 ga sekolah, hasilnya ya hipotesis2 ngaco semacem ini). Harusnya sih gue ke dokter, cuma kebetulan bu dokternya lagi rapat. Kebetulan beliau kepala puskesmas. Beliau juga ibu dua anak dan anggota komite sekolah. Eksis banget yak.

Baru2 ini, gue dapet rejeki yang lumayan. Biasanya gue perlu setahun buat ngumpulin duit segitu, makanya begitu itu duit di tangan, gue terharu banget. Gue angkat itu duit tinggi2, dan setiap lembarnya berkilauan minta dibelanjain. Kata2 sale,diskon dan cuci gudang mendadak muter2 di kepala gue, minta disamperin. Semua barang yang gue pegang keliatan tua dan kumel, seolah-olah mau maksa gue buat beli yang baru. Gue keinget pas lebaran gue pernah ngumpulin sangu. Sangu itu duit ampau, istilah dari nyokap gue. kayaknya sih bahasa sunda, tapi gue ga yakin2 amet. Gue ga mau cari berantem sama orang2 sunda. Bokap gue suka sakit kepala kalo nyokap gue udah ngomel2. Nyokap gue kan baru seorang, kalo banyak orang? bisa2 otak gue kena radiasi. Walah, kok malah tambah nyolot omongan gue, bisa perang beneran nih. Ga lah, orang sunda mah cantik, baik, ramah tamah, gue kan turunan sunda juga (*nyari aman).

Balik lagi ke sangu lebaran-jaman-kapan itu. Sangu yang gue pegang sekitar 1jutaan, trus gue bawa jalan2 ke mall. Dalam hitungan jam, 10 lembar duit seratusan ribu berubah jadi 5 lembar seribuan dan beberapa koin recehan. Gue pulang cuma bawa berapa biji komik sama perkakas2 nulis yang ujung2nya bakal ilang juga kalo gue bawa ke sekolah. Gue yang paginya ngetawain kakak gue yang ngurung diri di rumah, pulang2 miris liat kakak gue yang masih ngitung lembaran2 duit merahnya. Yah, gue emang bukan calon pebisnis yang baik. Gue mah segala duit disimpen di kantong. Ga akan gue itung2 berapa yang keluar dan berapa yang masuk. Tiba2 abis aja. Makanya, tiap gue dapet rejeki gede dikit gue oper ke nyokap, setelah gue potong beberapa persen buat hura2 (alesan gue ngambil duit sendiri : i can't resist..i..need..to..shop..or..i..will..die...someday)

Nah, gue sih baru cerita2 doang sama nyokap soal rejeki yang lumayan tadi. Belom gue kasih, belom gue potong buat gue-nya soalnya. Besok paginya, gue kebetulan libur. Libur beneran, bukan terpaksa libur kayak hari ini. Sekitar jam 6an pagi, suara yang gue kenal dari lahir, nanya gue simpen duit dimana dan alam bawah sadar gue dengan bodohnya nyahut, "di laci ma, laci yang nomer dua dari atas." Sekitar jam 8an gue bangun, gue cek laci gue dan gue loncat balik ke kasur. Isi laci gue tinggal recehan sama tiga lembaran ijo. Merinding gue, masa sebanyak itu lembaran merah bisa ilang gitu aja. Gue masih belom ngeh kalo nyokap yang 'mengkonservasikan' duit gue sampe nyokap nelpon sekitar jam 12 siang.
Nyokap (N) : "De, jangan lupa makan siang."
Gue (G) : "Iya mah. Ma, duitku yang kemaren ilang. Gimana nih?" (Panik setengah idup)
N : (diem dulu) "Ngg...."(lama banget 'ngg-'nya)
"Oh, tadi mama ambil. Nih ada di dompet mama, masih sama amplop-amplopnya malah. Antisipasi, biar duitnya ga lari kemana-mana. Kalo mama biarin bisa-bisa besok tinggal amplopnya aja. Mana hari ini libur kan."
G : "....(ga bisa ngomong, telak banget nyokap ngomongnya)"
N : "Yaudah mama kerja lagi ya nak, jangan lupa kamu solat, makan siang sama ntar temen mama..." (gue ga dengerin lagi, logika gue belom balik. Bisa2nya duit ditilep nyokap sendiri. Ini nyokap gue lho, nyokap yang sering gue tilep duit kembalian titipan belanjaanya buat beli jajanan dan jarang banget sadar.)
 : "dadah..." (telepon putus)

Malemnya gue protes ke nyokap, kok Beliau ngambil duit gue ga pake ijin2 dulu. Dipikir-pikir, biarpun tujuannya baik, seharusnya kan nyokap bilang2 dulu gitu ke gue, basa-basi apa kek, biar gue ga sakit jantung juga kemalingan pagi2. Tiba2 nyokap malah ngajak jalan ke mall. Secara belom malem2 banget mah gue hayuk2 aja. Kalopun udah malem2 banget sebenernya tinggal nyogok gue pake jcool juga pasti gue manut.

Nyampe di mall, kita langsung ke lantai dasar, bagian elektronik (bukan bagian elektronik yang kulkas, rice cooker, etc, tapi laptop, hp, camera dan sejenisnya). Sejujurnya, ini bagian mall yang gue rada ga suka. Gue sih seneng barang2nya, seneng banget malah. Cuma malesnya, gue sering disangkain etnis Tionghoa sama pedangan2 Tionghoa. Sebenernya enak sih, nawar jadi agak kebantu. Tapi, secara bahasa mandarin gue cuma tau i er san si sama wo aini aja, yang ada gue malah sering dibikin sebel sama pedangang-pedangannya. Kalo sama bokap belanjanya sih ga papa. Bokap keliatan lebih Tionghoa dari gue, secara buyut gue Tionghoa asli. Dan bahasa mandarin bokap lebih canggih dari gue. Nah, mengingat muka nyokap gue sama sekali jauh dari tampang Tionghoa, ini nih yang bikin gue sering makan hati. Kenapa?

Well, baru masuk toko pertama, gue udah makan hati.

Pemilik tokonya itu temen baru nyokap gue, Ibu2 seumuran nyokap, rada berisi dan jelas sekali keliatan asalnya dari etnis Tionghoa. Nyokap gue sibuk ngobrol basa basi, biasalah kalo ibu2 ketemu kan obrolannya dua ribu-an topik, malah kadang lebih. Gue sih sibuk liat2 laptop yang ada disitu. Gue ketemu laptop merek HP, ram 4 gb. gue ngincer banget nih, langsung gue tanya aja harganya. katanya, sekitaran 6,9 gitu. Trus nyokap gue nawar, minta kurangan dikit harganya. Si Ibu pemilik kaget, " Lho, ibu mau beli ini juga? katanya nunggu anak ibu?". Nyokap gue langsung bilang, " Ce, yang tadi tanya harga itu anak saya"
"Hah? ini anak ibu yaa? saya sangka siapa, soalnya mukanya beda. Anak ibu sipit2 banget, putih, rambut lurus kaya chinese. tadinya kalo nanya pake bahasa inggris saya mau kasih harga pake sing dolar. Ibu kan kecil, putih tapi ga sipit, trus mukanya masih keliatan indo lah. anak kandung atau saudara bu?"
(nyokap ngakak), " iya ini anak saya, dia mirip bapaknya bu."
gue sih udah makan hati aja. dalem hati gue komentar, "Kalo mata gue sipit2 banget, mata Ibu opo toh bu?garis tipis2 banget?".
Well, ujung2nya kita ga jadi beli laptop itu, gara2 nyokap ditawarin liat Acer Ferarri di pameran yang ada di lantai atas.

Well, pas kita jalan ke tempat pameran, gue sempet misah dari nyokap dan mampir ke toko aksesoris hp, beli memori sama headset buat PDA gue.Gue ubah dikit logat ngomong gue jadi agak Tionghoa, dan voalla, gue dapet memory 2Gb sama headset stereo+bass cuma dengan selembar duit 100rb, hahaha. Balik2 nyokap gue geleng2 doang.

Ya, kadang2 emang beberapa hal bisa sangat annoying, tapi di lain waktu, it could be so helpful..
And in the end, rejeki gue yang lumayan itu cuma berkurang selembar buat beli si headset sama memory tadi, karna pamerannya rame banget dan gue sama nyokap males nerobos2 keramean kaya gitu.

Rabu, 21 April 2010

Kartini is not belong to only woman, but to all human

Hey, selamat hari kartini, wanita-wanita indonesia. Each of you are a kartini with a different fight, aren't ya?

Hari ini, salah satu kartini 'terperangkap' di dalem rumah. I supposed to be at the school, tapi badan lagi ngga dukung. Maaf ya Ibu Kartini, terimakasih atas perjuangannya atas hak wanita untuk bersekolah. Gue jadi agak ngerasa bersalah.

Gue ga bisa ngomong banyak tentang Kartini. Gue ga tau banyak soal beliau. Yang gue tau, beliau itu nelson mandela-nya perempuan Indonesia, iya ngga? Beliau-lah,yang mekarin istilah 'emansipasi wanita'. Mungkin kalau masa itu twitter udah ada dan beliau punya account twitter, her writing would always be a trending topic. Retweeted by woman all over the world.

Tadi gue baca cuplikan-cuplikan tulisan beliau di twitter yang di post oleh user ber-nickname gypsibelle and from far away inside my heart nodding each sentece she said..
nih beberapa cuplikannya
well, salah satu tweet yang paling ngena buat gue adalah
"@pandji Meruntuhkan sesuatu dpt dilakukan orang yg terbodoh, tetapi membangun? Surat Kartini 12121902"

why?
first, i love the date. 12-12. this is the silliest reason, hahaha.

second, i'm getting more serious. pertanyaan retoris diatas, buat gue lumayan 'dalem'. banyak orang yang ga tau susahnya membangun dan dengan gampangnya ngehancurin apa yang udah orang bangun. dengan susah payah. mirisnya lagi, para penghancur ini cenderung ngerasa dapet 'shortcut' to something, to get over people's hardwork. atau simpelnya : know how to cheat.

yeah, cheating yang jadi basic dari banyak banget ke-ngaco-an dimana-mana. banyak orang ketawa-ketiwi, they think they have succesfully cheat on something. they consider their victim as the fool. nyatanya, they are even fooler (is there a word 'fooler'? idk, hahah) kan?

well, i need a fact to explain those argument. an example.
gini deh. since i'm a student, gue mau ngasi contoh lewat pelajaran fisika. beberapa orang yang ngafal rumus cepet, ketawa ketiwi waktu temen yang lain ngerjain soal setahap demi setahap, sesuai konsep yang mereka pahamin. sementara ga nyampe 3 menit soal itu bisa diselesein lewat rumus cepet. keren sih, ngerjain soal fisika cepet. halal banget sebenernya make rumus cepet, asal lo ngerti itu datengnya darimana dan gimana ceritanya bisa sampe begitu. atau intinya : lo ngerti konsep. nah kalo lo cuma hapal rumus doang dan udah songong ketawain orang yang ngerti konsep? yah, lo ngga lebih dari cheaters. cheaters kurang ajar. Murid-murid abnormal, goal belajarnya ngaco. Kalo murid normal belajar buat ngerti konsep, mereka belajar buat ngerjain soal. sometime, pas soalnya dibelok2in dikit, nah mati lo cheaters. mati kutu. ga bisa apa2. See, ini ngedukung pendapat gue tentang cheaters, they consider their victim as the fool. nyatanya, they are even fooler.

Dari sini juga keliatan, bahwa hidup itu punya 'mekanisme pembalasan' tersendiri buat apapun yang udah kita lakuin. Kemalesan siswa yang ga mau belajar buat ngertiin suatu hal, ntar ngefeknya ke mereka sendiri kan? yah, beginian yang sering disebut orang karma. sayangnya karma suka rada telat.

third, this sentece shows how Kartini realized how hard her fight will be, and still, she had a big willing to do it. Then, she finish it.She won her fight. Walaupun beliau sadar apa yang dilakuinnya bisa banget mandek, she didin't care. She wasn't afraid of things that could been happened to her. Beliau yakin kalau beliau memperjuangkan sesuatu yang benar, walaupun kiri-kanan-depan-belakangnya bilang itu salah, walaupun selama hidupnya kenyataan mempersuasikan bahwa lemahnya wanita adalah hal yang sangat natural, sangat kodrati.

Penjabaran gue diatas kayaknya terlalu simpang siur kesana kemari ya, tapi kurang lebih begitulah gue ngartiin kalimat beliau tersebut. Buat gue, Kartini lebih dari sekedar ikon kemajuan bagi perempuan, tapi seorang inspirator buat siapa aja. Semua orang, laki-laki atau perempuan, bisa dan boleh belajar dari Beliau. Karena, seperti apa yang beliau katakan 
"Celaka apabila orang dapat berpikir tapi tidak boleh, dapat merasa, mampu dan mau tapi tidak boleh"
Surat Kartini 29-11-1901

Sabtu, 06 Maret 2010

Getting a lil bit serious: talking about art and its education

overall, ini cuma sekedar bahasan gue aja, ga ada maksud membela kepentingan siapa2, gue cuma nulis apa yang gue rasa doang. no offense for everyone, gue tau tulisan gue dibawah masih ngawur sana sini, sorry deh, hehe. gue minta maaf sebelumnya kalo ada yang merasa kesinggung sama tulisan gue ini, cuma ya itu tadi, gue disini ga ada maksud apa2 selain nulis what my heart told me.

Someway menurut gue, seni ga butuh titel. Malah bukan seni aja, segala sesuatu yang cenderung diukur dengan rasa, itu ga perlu dapet gelar ini itu buat jadi expert di bidang itu. Buat seni, personally di mata gue ga perlu jadi doktor seni buat jadi seniman jagoan. Gue bukannya anti fakultas seni, gue cuma mikir seni itu natural, ngalir sendiri. Oke, seni emang bisa dipelajarin, tapi bakat engga. Minat dan dedikasi juga penting, dan totalitas dan konsistensi berseni ini cuma bakal ada di orang2 yang emang udh gifted jiwa seninya. 

Argumen gue sih gini, lo liat aja sendiri musisi2 legendaris, sejenis Elvis Presley, ato di Indonesia Chrisye. Cari deh yg punya gelar PhD seni. Dapet? Jago deh lo kalo dapet, niat banget lo matahin argumen gue, hahaha. Gue sendiri punya temen yang sering menang best dummer kalo festival band, cuma begitu ulangan harian seni musik di sekolah jeblok. Ada juga yang asik banget kalo main gitar, giliran disuruh solmisasi pake gitar gurunya sampe ngamuk. Model begini jamak banget dimana2, iya ngga? Gue ngambil contoh musik soalnya gue ngerasa asumsi ketidakbutuhan titel gue ini paling nyata gue liat di seni ini, mungkin karna seni ini yang paling 'menguasai pasar' di lingkungan gue.

Seni yang lain juga sebenernya gitu. Misalnya, tanya deh sama kapten cheers di sekolah lo, belum tentu dia tau teorinya cheerleading itu sendiri tujuan dibikinnya buat apa. Malah, no offense nih ya, gue sering liat di film2 kapten cheers digambarin sebagai sosok yg ga tau apa2 selain cara cheerleading, hahaha, no offense, no offense ya. Banyak seniman yang nguasain teori2 seni kayak gitu by heart aja. Sebenernya ga cuma seniman aja sih. Pedagang misalnya, banyak tuh yg sukses dulu baru masuk sekolah bisnis(mungkin mau lebih sukses, ato ngejar 'pengakuan' resmi). Perdagangnya selama ini sukses gara2 insting bawaan orok. Pas masuk sekolah bisnis, ternyata teori2 yg diajarin itu selama ini udah dipraktekin duluan. Ato tentor bimbel yang ngajarnya lebih enak daripada guru2 yg bisa ngantongin izin ngajar, alias emang udah bawaanya jago ngajar. Demen banget gue sama orang2 tipe begini. Asik banget men, dilahirin built-in ilmu kayak gitu. Makanya di atas tadi gue nyebutin kalo bukan cuma seni aja sebenernya yang ga butuh titel.

Tapi disini gue mau fokus ngomongin soal seni aja dulu, soalnya dari sinilah asumsi ketidakbutuhan titel gue lahir. Gue ga mungkirin fakta kalo emang ada sarjana seni yang sukses dan bener2 brillian. They're very lucky then, they've got talent and they have the chance to get their talent be legally appreciated. Maksudnya, walaupun mereka lagi ga bikin karya, dengan gelar yang gelantungan di ujung nama mereka, orang juga bisa tau kalo mereka itu seniman ini lho, bisa bikin ini lho. Sayangnya, fakultas seni itu relatif ga murah dan minim beasiswa, terutama seni2 yang ga tergolong seni murni lagi dan berbau2 multimedia, misalnya fashion design, ato desain komunikasi visual. Padahal justru banyak seniman2 lahir - dan kadang justru mendapatkan bakat seninya, di tengah keterbatasan, termasuk keterbatasan finansial. Tapi keterbatasan finansial bukan barrier kalo lo emang cinta mati sama seni. Lo bisa jadi jagoan seni, walaupun otodidak doang. Dan karya lo tetep bisa bikin orang2 terpesona, lo tetep bisa diapresiasi dengan baik sebagai seniman.

Memang seni intinya cuma butuh diapresiasi, baik legal maupun engga. Cuma, soal pelegalan ini bisa jadi masalah pas saingan nyari kerjaan di perusahaan. Kalo penyanyi, penari, ato aktor mah lumayan ngga ganggu deh, soalnya sering diseleksi pake audisi. Lain, kalo kasusnya, misalnya lo desainer grafis berbakat jagoan, yahudlah pokoknya, yang ga punya duit kuliah di DKV (yg emang muahaal, minim beasiswa pula) trus lo apply di perusahaan, barengan sama ratusan, bahkan ribuan applicanta lain yang lulusan DKV universitas A,B,C,D,E....anything lah. Kebanyakan Hrd nya cuma liat lo lulusan mana, nilainya berapa, track record lo gimana. Okelah, kalo lo emang selama ini udah kerja profesional sama orang2, trus karya lo mereka pake dan merka akuin secara resmi, chance lo buat dilirik masih gede. Trus gimana kalo lo tipe pemalu yg cuma nyimpen karya lo sendiri, ato karya2 lo cuma nongol di galeri situs sosial, alias dipublish secara ga resmi&non-profit? Emang mau tuh para Hrd main ke situs lo trus liat2 gitu? Mengingat jumlah applicants yg biasanya banyak, emm..pesimis deh gue.

yah, dari gue sih solusinya cuma dari dua aspek, dari si Hrdnya yang mesti ngubah kriteria &sistem penerimaan employeenya, ngga lagi matok sama cv tapi juga harusnya liat satu2 hasil karya yg pernah dibikin applicantsnya...agak mustahil. Ato lo-nya yg dari awal harus aktif nyari link, ikutan lomba ini itu, pokoknya cari pengakuan resmi lah buat karya2 lo, bukan cuna sekedar pujian orang2, di-like banyak orang di facebook, ato nongol di search engine saking seringnya dipake orang.

Titel pendidikan seni, kadang emang ngefek banget ke masalah kerjaan, karena kriteria karyawan ideal seringkali diukur dari tingkat pendidikannya, bukan besar potensinya. Lo mesti punya 'seni' sendiri buat survive di dunia kerja kayak gini, otherwise you should remember that art actually is not made to provide profits, but to provide prosperity for the soul of its lover.

Kamis, 04 Maret 2010

Pescetarian, the Best Diet in the World


This is one of my serious writing. Jadi, ceritanya gue jadi sampel penelitian Mr. Bachtiar, beliau bikin penelitian tentang ilmu writing di sekolah. Dari seisi sekolah, diambil 6 sampel dari angkatan gue. Nah para sampel ini diminta bikin analytical exposition, trus prosesnya ini yang didokumentasiin sama Beliau. Salting juga gue nulis direkam, hahaha, agak behave dikit lah jadinya, biasanya gue kalo nulis macem-macem posisinya, haha. Kita juga dikasih kuisioner sama ada interview singkat gitu.Mungkin later gue post the whole story about this research, but now, thanks to him, i drop by here again, haha. Anyway, sebelumnya gue mau ngucapin thanks buat semua situs yang udah nyedian info-info di bawah, data-data dan gambar di bawah yang mostly gue dapet dengan cara googling, So this is it (men, sounds like farah queen, haha), my analytical expositions titled


Have you ever try, even though only in a day, not to eat land animals and birds, but only sea foods and plants? That way of eating, is called pesecetarianism, which is the best way of eating in the world.  Eggs and dairy mostly not eaten by pescetarian, but some of them do eat those.
If you be a pescetarian that do not eat land animals, it means you do not eat red meats. Earlier studies have strongly linked the consumption of red meats to colon cancer, heart disease and even diabetes, owing to their high content of unhealthy omega6 fatty acids and alarming concentration of saturated fats. USCD School of Medicine recently published the fact that a non-human, cellular molecule is absorbed into human tissues as a result of eating red meat and milk products. That molecules name Neu5Gc. Antibodies formed by body as the immune response to Neu5Gc contribute to inflammatory processes in various diseases, that is why it could be primarily responsible for any specific disease. Neu5Gc is also reported found in human cancer tissues, although they are found in small amounts. This is how eating less red meat significantly reduce your risk to a lot of diseases.
Knowing these dangers, some people decide to cut out all meats from their dishes. These people called-and call themselves vegetarian. Vegetarianism, nowadays are really popular. Ever since celebrity does this kind of diet, there are more and more vegetarian in the world. Pescetarians often wrongly recognized as vegetarians, but in fact, Pescetarians are a lot healthier. If you decide to be a vegetarian, you’d better be prepared to manage the details of nutrition in any of your meal, in order to get all the nutrition that your body needs. You need a very keen understanding of protein and how to get the right quantity and quality you need.  Vegetarians use soya for the main source of protein, but a study conducted over a period of time shows that people who had soya for their only source of protein had their testosterone level dipped up to 75%. A pescetarian handled this fact by eating seafood to get the enough amounts of proteins. As a vegetarian, you also need double portion of iron, because plants only contains heme-iron, the kind of irons that slowly absorbed by human body, and they are also absorbed in lower amount than the iron found in meats. Therefore, some vegetarians end up suffering anemia, but pescetarian doesn’t, because seafood contains the same kind of iron found in meats. The adequate consumption of tuna, mackerel and salmon also can combat deficiency of vitamin D3.
Fish products do not have the same dangers as red meats; in fact it may help to prevent those dangers. Most types of fish contain large quantities of polyunsaturated omega3 fatty acids, which have been implicated in the treatment of everything, form disease to depression to attention deficit disorder. Omega3 fatty acid is only found in fish. In 2004, Food and Drugs Association declare that omega3 fatty acids can combat the risk of coronary heart disease. This shows how being a pescetarian can improve your health.
Pescetarian diet is very much similar to the way Japanese eat, who now enjoy the 1st lowest obesity rate in the developed world. They also could expect to live longer and anticipate on average of 75 years lived health and disability-free. They diet, just like Pescetarians, are include a lot of fish, plants, and what make their diet better is they serve smaller portions, eat mindfully and slowly, and they add some healthy options such as tofu and rice. But when these people start to adopt western-style diet, they will put on weight rapidly.

Being a pescetarian, is about taking as much benefits as vegetarian does, without losing the advantages of a meat-eater.